Artikel Ilmiah : Pengaruh Pupuk Organik Cair Pada Pertumbuhan Tanaman Buncis

PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR HORMON TANAMAN UNGGUL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L)
Oleh:
Anik Safitri, Dr. Ir. Nerty Soverda, MS, dan Ir. Buhaira, MP
PS Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jambi


ABSTRAK

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul terhadap pertumbuhan dan hasil tertinggi tanaman buncis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Febuari – Juni 2013 di Teaching and Research Farm Fakultas Pertanian Universitas Jambi Kampus Mendalo Indah, desa Mendalo Indah kecamatan Jambi Luar Kota kabupaten Muaro Jambi. Lokasi penelitian terletak pada ketinggian 35 dpl (diatas permukaan laut). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima konsentrasi pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul sebagai taraf perlakuan. Lima taraf tersebut adalah tanpa pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul (d0), 1 ml L-1 air (d1), 2 ml L-1 air (d2), 3 ml L-1 air (d3) dan 4 ml L-1 air (d4). Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (daun), jumlah cabang (cabang), jumlah polong (polong), panjang polong (cm) dan berat polong (g). Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf α = 5 %. Hasil memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh konsentrasi pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul dengan konsentrasi 4 ml L-1 air memberikan hasil terbaik terhadap perkembangan vegetatif tanaman buncis. Konsentrasi 1 ml L-1 air memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan generatif tanaman buncis.

Kata kunci: Kacang buncis, pertumbuhan, hasil, pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul

ABSTRACT

The study aimed to determine the effect of concentration of liquid organic fertilizer Superior Plant Hormones on crop growth and the highest yield of beans . The experiment was conducted in February - June 2013 at the Teaching and Research Farm of Faculty of Agriculture, University of Edinburgh campus Mendalo Beautiful , Beautiful Mendalo rural districts of Jambi Jambi Muaro Outer City district . Location of the study lies at an altitude of 35 asl ( above sea level ) . The design used was a randomized block design ( RBD) with five concentrations of liquid organic fertilizer as a Superior Plant Hormone treatment level . The five- level liquid organic fertilizer is no Superior Plant Hormones ( d0 ) , 1 ml L - 1 water ( d1 ) , 2 ml L - 1 water ( d2 ) , 3 ml L - 1 water ( d3 ) and 4 ml of L - 1 water ( d4 ) . The variables measured were plant height ( cm ) , number of leaves ( leaf ) , number of branches ( branch ) , pods ( pods ) , pod length ( cm ) and weight of pods ( g ) . Data were analyzed with analysis of variance and followed by LSD test at level α = 5 % . The results showed that there are significant concentrations of organic liquid fertilizer plant hormone concentrations Winning with 4 ml L - 1 water gave the best results on the development of vegetative plant beans . Concentration of 1 ml L - 1 water gave the best results on the growth of bean plants generative .



PENDAHULUAN

Buncis (Phaseolus vulgaris L) merupakan tanaman sayuran kacang-kacangan yang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, merupakan sumber protein nabati dengan kadar protein lebih kurang 35,1 %. Ditinjau dari kandungan gizinya buncis mempunyai peranan penting terhadap peningkatan gizi masyarakat, perluasan kesempatan kerja dan pengembangan terhadap produksi sayuran nasional. Untuk meningkatkan produksi tanaman buncis perlu dilakukan pemupukan.
Dewasa ini pemupukan dengan pupuk anorganik dalam jangka panjang berakibat buruk pada kondisi tanah. Tanah menjadi cepat mengeras, kurang mampu menyimpan air dan cepat menjadi masam dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas tanaman. Untuk menjaga kondisi tanah agar tetap subur dalam jangka waktu yang lama penggunaan pupuk organik perlu dilakukan. Pupuk organik umumnya merupakan pupuk lengkap karena mengandung unsur hara makro dan mikro. Pupuk organik dapat berupa padat dan cair serta dapat diberikan kemedia tanam maupun ketanaman langsung. Pemupukan pada tanaman buncis secara langsung ketanaman menggunakan pupuk organik cair. Pemupukan dengan menggunakan pupuk organik cair selain menambah bahan organik juga dapat menambah hara tanaman. Pupuk organik cair yang dalam penggunaannya melalui daun akan lebih merata sehingga menanggulangi defisiensi hara secara cepat. Pemberian pupuk organik cair harus memperhatikan konsentrasi yang diaplikasikan terhadap tanaman.

Oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul terhadap pertumbuhan dan hasil tertinggi tanaman buncis.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Teaching and Research Farm Fakultas Pertanian Universitas Jambi Kampus Mendalo Indah, Desa Mendalo Indah Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian dilaksanakan dari bulan Febuari 2013 sampai dengan bulan Juni 2013.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: benih buncis tipe tegak varietas Tala, pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul, tanah kompos, pasir dan air.
Alat yang digunakan adalah cangkul, parang, mesin air, selang air, mistar, tali, polybag, ember, gembor, handsprayer, timbangan analitik, alat tulis dan alat-alat yang berhubungan dengan penelitian ini.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal, yaitu konsentrasi pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul dengan 5 perlakuan dan perlakuan diulang 4 kali sehingga diperoleh 20 petak percobaan. Perlakuan yang dicobakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut d0= tanpa pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul, d1= 1 ml L-1 air, d2= 2 ml L-1 air, d3= 3 ml L-1 dan d4= 4 ml L-1 air. Pada setiap petak terdapat 3 tanaman sampel dan jumlah keseluruhan tanaman sampel pada penelitian ini sebanyak 60 tanaman. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, jumlah polong, panjang polong dan berat polong. Hasil percobaan menunjukan pemberian beberapa konsentrasi pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, jumlah cabang, panjang polong dan berat polong.
Persiapan lahan meliputi pengolahan lahan yang dilakukan dengan penetapan lahan penelitian dan pengolahan tanah. Areal yang digunakan terlebih dahulu dibersihkan dari semak dan kotoran lainnya, kemudian memasukkan media tanam campuran antara tanah dan pupuk kompos dengan perbandingan 1:1 dan selanjutnya dilakukan penyusunan polybag dengan jarak antar polybag adalah 50 cm x 20 cm.
Penanaman benih buncis pada polybag dilakukan dengan memasukkan benih buncis kedalam lubang tanam dan ditutup kembali dengan tanah. Selanjutnya tanah disiram hingga tanahnya cukup lembab. Setiap polybag diisi 3 benih buncis.
Pemberian pupuk organik cair Hormon tanaman Unggul dilakukan dengan menyemprotkan larutan pupuk organik cair dengan konsentrasi sesuai perlakuan pada tanaman pada waktu pagi atau sore hari. Pemberian setiap perlakuan pupuk organik cair dilakukan setelah tanaman berumur 10 hst dan diulang setiap 7 hari sekali.

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL
Berdasarkan analisis ragam dan setelah dilakukan uji BNT, diketahui bahwa pemberian berbagai konsentrasi pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul berbengaruh nyata terhadap variebel jumlah daun, jumlah cabang, panjang polong dan berat polong.
Tabel 1. Rata-rata jumlah daun umur 35 hst dengan perlakuan pupuk organik cair.
Konsentrasi (ml L-1)
Jumlah Daun
(Daun)
4
8.00a
3
7.95a
0
6.84bc
2
6.56c
1
6.20c
Keterangan : Angka–angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata    menurut Uji BNT pada taraf ά = 5 %.

Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah daun terbanyak diperoleh dari pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 4 ml L-1 yaitu 8,00 daun, tidak  berpengaruh nyata dengan pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 3 ml  L-1 tetapi berpengaruh nyata dengan pemberian konsentrasi 0 ml L-1, konsentrasi 1 ml L-1 dan konsentrasi 2 ml L-1. Jumlah daun paling sedikit diperoleh dari pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 1 ml L-1 yaitu 6,20 daun.
Tabel 2. Rata-rata jumlah cabang umur 35 hst dengan perlakuan pupuk organik cair.

Konsentrasi (ml L-1)
Jumlah Cabang
(Cabang)
4
9.08a
3
9.00a
2
  7.44bc
0
7.00c
1
 6.86c
Keterangan : Angka–angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata    menurut Uji BNT pada taraf ά = 5 %.
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah cabang terbanyak diperoleh dari pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 4 ml L-1 yaitu 9,08 cabang, tidak berpengaruh nyata dengan pemberian konsentrasi 3 ml L-1 tetapi berpengaruh nyata dengan pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 0 ml L-1, konsentrasi 1 ml L-1 dan konsentrasi 2 ml L-1. Jumlah cabang paling sedikit diperoleh dari pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 1 ml L-1 yaitu 6,86 cabang.
Tabel 3. Rata-rata panjang polong umur 35 hst dengan perlakuan pupuk organik cair.
Konsentrasi (ml L-1)
Panjang Polong (Polong)
1
4.61a
4
4.44ab
2
4.32b
3
3.86c
0
3.86d
Keterangan : Angka–angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata    menurut Uji BNT pada taraf ά = 5 %.
Tabel 3 menunjukkan bahwa panjang polong tertinggi diperoleh dari pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 1 ml L-1 yaitu 4,61 cm, tidak memberikan pengaruh yang nyata dengan pemberian konsentrasi 4 ml L-1 tetapi berpengaruh nyata dengan pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 0 ml  L-1, konsentrasi 2 ml L-1 dan konsentrasi 3 ml L-1. Panjang polong terendah diperoleh dari pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 0 ml L-1 yaitu 3,86 cm.
Tabel 6. Rata-rata berat polong umur 35 hst dengan perlakuan pupuk organik cair.

Konsentrasi (ml L-1)
Berat Polong (grm)
1
4.16a
2
3.13b
4
2.35c
0
2.07c
3
1.95c
Keterangan : Angka–angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata    menurut Uji BNT pada taraf ά = 5 %.
Tabel 6 menunjukkan bahwa berat polong terbanyak diperoleh dari pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 1 ml L-1 yaitu 4,16 gram, berpengaruh nyata dengan pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 0 ml  L-1, konsentrasi 2 ml L-1, konsentrasi 3 ml L-1 dan konsentrasi 4 ml L-1. Berat polong terendah diperoleh dari pemberian pupuk organik cair pada konsentrasi 3 ml L-1 yaitu 1,95 gram.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair hormon tanaman unggul berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, jumlah cabang, panjang polong dan berat polong, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah polong.
Salah satu unsur yang terkandung pada pupuk organik cair hormon tanaman unggul adalah unsur nitrogen (N). Unsur nitrogen mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman seperti daun dan batang. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurhayati (2009) yang menyatakan bahwa nitrogen merupakan komponen dari penyusun asam amino dan protein yang banyak terdapat dalam sel-sel vegetatif tanaman. Pemberian pupuk organik cair yang lengkap kandungan haranya, akan menyebabkan laju pertumbuhan yang sintesis yang berbeda (Indrakusuma,200I). Salisbury dan Ross (1995) mengatakan bahwa pupuk organik cair selain mengandung nitrogen yang merupakan penyusun dari protein, asam nukleat dan klorofil juga mengandung unsur hara mikro antara lain unsur Mn, Zn, Fe, S, B, Ca dan Mg. Unsur hara mikro tersebut berperan sebagai katalisator dalam proses sintesis protein dan pembentukan klorofil. Poerwowidodo (1992) menyatakan humat dan asam fulfat serta zat pengatur tumbuh yang terkandung dalam pupuk organik cair akan mendukung dan mempercepat pertumbuhan tanaman (Rao, 1994 dan Poerwowidodo 1992).
Berdasarkan hasil analisis ragam jumlah daun tanaman buncis menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair umur 35 hst dengan konsentrasi 4 ml L-1 merupakan yang terbaik yaitu 8,00 daun (Tabel 2). Hasil analisis ragam jumlah cabang menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair konsentrasi 4 ml L-1 meningkatkan jumlah cabang terbanyak yaitu 9,08 cabang (Tabel 3). Hal ini diperkirakan akan mengakibatkan tanaman yang diberi pupuk organik cair menghasilkan fotosintat yang lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi pupuk organik cair (kontrol) karena tanaman dengan jumlah daun yang lebih banyak, mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam memanfaatkan cahaya matahari untuk digunakan sebagai energi dalam proses fotosintesis. Sehingga hasil fotosintesisnya (fotosintat) juga akan tinggi. Peningkatan jumlah daun setelah pemberian pupuk organik cair akan berakibat pada meningkatnya jumlah cabang yang dihasilkan oleh tanaman buncis (Tabel 3). Gardner et al (1991) menyatakan bahwa batang tersusun dari ruas yang merentang di antara buku-buku batang tempat melekatnya daun,jumlah buku dan ruas sama dengan jumlah daun. Jumlah cabang dapat meningkat karena adanya unsur N yang terdapat dalam pupuk organik cair dan peningkatan penyerapan N oleh tanaman ini distimulir atau didorong oleh keberadaan unsur hara mikro yang terdapat di dalam pupuk organik cair, dimana peranan unsur mikro seperti Mg, Fe, Zn, dan Mn adalah sebagai kofaktor enzim yang mendorong peningkatan aktivitas metabolisme di dalam tubuh tanaman (Parnata, 2004).
Tanaman yang mempunyai jumlah polong banyak berarti tanaman tersebut mampu tumbuh dan cocok pada keadaan lingkungan setempat. Tidak berpengaruhnya beberapa konsentrasi pupuk organik cair hormon tanaman unggul terhadap jumlah polong pada penelitian ini diduga karena pengaruh varietas, tempat tumbuh, iklim, kesuburan tanah dan kadar air bahan tersebut. Menurut Daryanto dan Satifah (1987) bahwa tidak semua polong yang terbentuk dapat tumbuh terus sehingga menjadi polong dewasa atau tua, tetapi faktor lingkungan dan fisiologi dapat mempengaruhi penyerbukan yang dapat membentuk buah atau polong dan yang gugur selama proses penyerbukan. Seperti menurut Putrasamedja (1992) bahwa khusus untuk pembentukan buah memerlukan temperatur dibawah 25 ̊ C, karena pada temperatur sekitar 25° C - 28 ̊ C banyak bunga yang gugur sebelum tejadi penyerbukan.
Djuariah (2008) menyatakan bahwa panjang polong dan diameter polong buncis akan lebih kecil pada dataran yang lebih rendah dibandingkan dengan dataran yang lebih tinggi. Hal ini diduga karena lingkungan tempat tumbuh yang kurang optimal. Diduga pada penelitian ini media tanam tidak hanya berpengaruh untuk meningkatkan produksi buncis secara kuantitas, tetapi juga secara kualitas, dilihat dari panjang polong buncis tegak. Pada penelitian ini buncis tegak ditanam dalam wadah polibag sehingga unsur hara dan daya sokong media tanamnya terbatas. Penelitian ini juga dilakukan didaerah dataran rendah, Tanah pada daerah ini merupakan tanah ultisol yang banyak mengandung unsur Alumunium (Al) dan besi (Fe) sehingga keadaan tanah tersebut kurang baik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman buncis karena mengandung racun bagi tanaman.  Dole dan Wilkins (2005) menyatakan bahwa tanaman yang tumbuh dalam wadah kurang memiliki ketersediaan air dan hara serta drainase yang terbatas. Rendahnya hasil berat polong per tanaman sangat berhubungan dengan rata-rata jumlah polong per tanaman yang dipanen dan serangan hama penyakit. Selain itu belum beradaptasinya sejumlah kultivar dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung dapat menyebabkan rendahnya hasil produksi.
Hasil analisis ragam pada variabel panjang polong dan bobot segar buncis menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair umur 35 hst dengan pemberian konsentrasi 1 ml L-1 meningkatkan panjang polong terbaik yaitu 4,61 cm (Tabel 5). Pemberian konsentrasi 1 ml L-1 meningkatkan berat polong terbaik tanaman yaitu 4,16 gram (Tabel 6).
Pemberian pupuk organik cair mampu menghasilkan panjang polong dan bobot segar polong buncis yang lebih baik dibandingkan kontrol akibat dari adanya penambahan kandungan unsur N di daun tanaman setelah pemberian pupuk organik cair, dimana pemberian pupuk organik cair mampu meningkatkan status unsur nitrogen dari level yang sangat rendah pada tanaman yang tidak diberi pupuk organik menjadi berlevel rendah pada tanaman yang diberi pupuk organik. Adapun komposisi hara yang dimiliki oleh pupuk organik cair hormon tanaman unggul adalah N 63 ppm, P 6 ppm, K 14 ppm, Mg < 0,01 ppm, Na 0,22 ppm, Cu 0,05 ppm dan Fe 0,68 ppm. Keadaan ini menyebabkan tanaman dapat meningkatkan panjang polong dan berat polong terbaik dari keempat perlakuan yaitu konsentrasi 1 ml L-1, namun belum mencapai panjang polong dan berat polong sesuai deskripsi varietas buncis tegak (Lampiran 1). Hal ini selain faktor genetik, media tanam, kecukupan air pada tanaman juga berpengaruh terhadap produksi tanaman buncis. Djuariah (2008) juga menambahkan bahwa suhu udara di atas 25 ̊ C tidak baik untuk pembentukan buah (Lampiran 5), begitu pula jika suhu udara dingin tidak baik untuk pertumbuhan maupun pembuahan. Kelembaban udara yang diperlukan tanaman buncis berkisar antara 50 % - 60 %, namun pada penelitian yang telah dilakukan kelembaban udara cukup tinggi (Lampiran 5) dan curah hujan rendah (Lampiran 6). Kelembaban yang cukup tinggi akan mendukung terjadinya serangan hama dan penyakit. Selain faktor suhu udara, rendahnya hasil buncis tegak diduga karena lingkungan tumbuhnya yang terbatas.





KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
  1. Pemberian beberapa konsentrasi pupuk organik cair Hormon Tanaman Unggul pada tanaman buncis memberikan pengaruh yang nyata terhadap Jumlah Daun, Jumlah Cabang, Panjang Polong dan Berat Polong. Namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman dan Jumlah polong.
  2. Pemberian pupuk organik cair konsentrasi 4 ml L-1 memberikan hasil terbaik terhadap perkembangan vegetatif tanaman buncis yaitu jumlah daun dan jumlah cabang. Sedangkan pemberian pupuk organik cair konsentrasi 1 ml L-1 memberikan hasil terbaik terhadap perkembangan generatif tanaman buncis yaitu panjang polong dan berat polong.
SARAN
Disarankan untuk penelitian lebih lanjut tentang pengaruh konsentrasi pupuk organik cair hormon tanaman unggul dan keadaan lingkungan tempat tumbuh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis. Dicobakan dengan menggunakan media tanam yang tepat, kecukupan air pada tanaman, tempat media tanam yang sesuai kondisi tanaman dan diuji pada tempat dengan lingkungan yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S. 1993. Pengaruh Pupuk Pelengkap Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah dalam Risalah Seminar, Balai Penelitian Tanam Pangan Sukabumi. Badan Penelitian Pengembangan Pertanian Balittan Sukabumi.Vol. II: 38-44.
Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Perkebunan. 2011.
Cahyono. 2003. Kacang Buncis Teknik Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Penerbit Kasinus. Yogyakarta.
Daryanto dan Satifah, S. 1987. Penampilan Lima Kultivar Kacang Buncis Tegak di Dataran Rendah. Jurnal Agrivigor. Vol. 8. No. 1. 64 – 73.
Djuriah. 2008. Pertumbuhan dan Produksi Buncis Tegak ( Phaseolus Vulgaris) pada Beberapa Kombinasi Media Tanam Organik. Jurnal Buletin Agrohorti. Vol 1. No. 1. 94 – 103.
Dole dan Wilkins. 2005. Pertumbuhan dan Produksi Buncis Tegak ( Phaseolus Vulgaris) pada Beberapa Kombinasi Media Tanam Organik. Jurnal Buletin Agrohorti. Vol 1. No. 1. 94 – 103.
Fachruddin, L. 2007. Budidaya Kacang-kacangan. Kanisius. Yogyakarta.
Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants (Fisiologi Tanaman Budidaya, alih bahasa oleh Herawati Susilo). University of Indonesia Press, Jakarta.
Hadiansyah. 2009. Pupuk Cair Organik Ratu Biogen Multi Fungsi. http://starvoucher.co.cc (Diakses 22 Maret 2009).
Hanolo, W. 1997. Tanggapan tanaman selada dan sawi terhadap dosis dan cara pemberian pupuk cair stimulan. Jurnal Agrotropika 1(1):25-29.
Indrakusuma. 2000. Proposal Pupuk Organik Cair. Supra Alam Lestari. PT Surya Pratama Alam.
                . 2001. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kentang.Jurnal Buletin Anatomi dan Fisiologi. Vol. XV. No. 2.
Lingga, P. 1986. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lingga, P. Dan Marsono. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Marsono, dan Paulus, S., 2001. Pupuk Akar: Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Musnamar, E. I. 2003. Pupuk Organik : Cair dan Padat, Pembuatan, Aplikasi. Revisi ke-9. Penebar Swadaya. Jakarta. 72 hal.
Nurhayati. 2004. Aplikasi Pupuk Organik dan Benziladenin terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Rosela (Hibiscus Sabdariffa L.). Jurnal Online Agroekoteknologi. Vol 1. No. 4.
Parnata. A. S. 2004. Pupuk Organik Cair : Aplikasi dan Manfaatnya. Agromedia Pustaka. Bandung. 121 Hal.
Pinilih, J. 2005. Pewarisan sifat warna bunga ukuran polong dan bobot polong pada persilangan buncis (Phaseolus vulgaris L.) kultivar Richgreen dengan Flo. Agrosains. 18 (1): 11-22.
Pitojo, S. 2004. Seri Penangkaran Benih Buncis. Kanisius. Yogyakarta.
Prihmantoro, H. 1996. Memupuk Tanaman Buah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Putrasamedja, S. 1992. Adaptasi berbagai macam kacang tipe tegak (Phaseoius vulgaris) dataran rendah. Bull. Penel.Hort. XXU (2) : 5-9.
                . 1992. Pertumbuhan dan Produksi Buncis Tegak ( Phaseolus Vulgaris) pada Beberapa Kombinasi Media Tanam Organik. Jurnal Buletin Agrohorti. Vol 1. No. 1. 94 – 103.
Porwowidodo. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Penerbit Angkasa. Bandung.
                . 1992. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kentang.Jurnal Buletin Anatomi dan Fisiologi. Vol. XV. No. 2.
Rizqiani, N, A Erlina, WN Yuwono . 2007. Pengaruh Dosis dan Frekuensi Pemberian Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Buncis (Phaseolus Vulgaris L) Dataran Rendah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7, No 1, 43-53.
Rohim, I. dan Sukarni. 2011. Pertumbuhan dan Produksi Melon pada Dua Jenis Bokhasi dan Berbagai Konsentrasi Pupuk Organik Cair. Jurnal Agronomika. Vol 1 No. 2, 87-93.`1
Rukmana, R. 1994. Bertanam Buncis. Kasinus. Yogyakarta.
                . 2002. Bertanam Buncis. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Salisbury, F. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 2. ITB Press. Bandung.
                . 1995. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kentang.Jurnal Buletin Anatomi dan Fisiologi. Vol. XV. No. 2.
Samekto, R. 2006. Pupuk Daun. PT Citra Aji Parama. Yogyakarta.
Setianingsih, T. dan Khaerodin. 1993. Pembudidayaan Buncis Tipe Tegak dan Merambat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Susanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta.
Sutejo, M.M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Sutiyoso, Y. 2003. Meramu Pupuk Hidroponik Tanaman Buah, Sayuran dan Hias. Penebar Swadaya. Jakarta.
Syefani dan A. Lilia. 2003. Pelatihan Pertanian Organik. Fakultas Pertanian Unibraw. Malang.
Titi, S. dan Khaerodin, 1991, Pembudidayaan Buncis Tipe Tegak dan Merambat, PT Penebar Swadaya, pp. 10 – 27, Jakarta.
Tjionger, M. 2002. Menjaga Keseimbangan Unsur Makro dan Mikro Untuk Tanaman.Abdi Tani Volume 3 Edisi XII, Tanindo Subur Prima. Surabaya.

                                                                                                               

Komentar