Jurnal : Penelitian Padi

PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI DENGAN PERBEDAAN UMUR BIBIT PADA METODA SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)

Vera Oktaviani[1], Akmal[2] dan Tiur Hermawati2


Abstrak
Penelitian dilakukan untuk mendapatkan umur bibit yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil padi pada metoda SRI. Penelitian dilaksanakan selama lebih kurang 5 bulan, yaitu pada bulan Maret sampai Juli 2008 di lahan sawah Balai Benih Induk (BBI) Padi Sukajaya Km. 37 Jalan Raya Jambi – Muara Bulian, Desa Jembatan Mas Kabupaten Batang Hari Jambi. Rancangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 kelompok. Perlakuan yang digunakan adalah umur bibit padi 5, 8, 11, 14 dan 17 hari, dengan varietas yang digunakan adalah varietas Indragiri. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistika dengan uji F dan uji lanjutan DNMRT (Duncan’s New Multiple Range Test) pada taraf nyata 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan umur bibit padi 5, 8, 11, 14 dan 17 hari varietas Indragiri pada metoda SRI tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, bobot 1000 butir gabah bernas dan hasil padi

Kata kunci: tanaman pangan, Oryza sativa, SRI (System of Rice Intensification)



PENDAHULUAN

Dalam program peningkatan produksi padi, pemerintah masih mengandalkan sawah sebagai tulang punggung pengadaan beras daripada lahan kering. Hal ini mengingat lahan sawah mem-punyai kemampuan untuk menghasilkan produktivitas lebih tinggi, selain ketersediaan teknologi yang lebih banyak (Utomo dan Nazaruddin, 2003).
Produktivitas padi sawah Indonesia masih rendah, meskipun pada tahun 2006 terjadi pening-katan produksi sebesar 54.454.097 ton gabah kering giling (GKG) (0,56 persen) jika dibanding-kan dengan produksi tahun 2005 sebesar 54.151.097 ton GKG (Badan Pusat Statistik, 2007). Peningkatan produksi ini diharapkan akan terus berlanjut.
   Produksi padi harus terus ditingkatkan melalui peningkatan produktivitas. Salah satu metoda yang bisa diaplikasikan adalah metoda SRI (System of Rice Intensification). SRI mampu meningkatkan produksi padi dua kali lipat bahkan lebih dari produksi padi yang ditanam secara konvensional. Hasil metoda SRI di Madagaskar, pada beberapa tanah yang kurang subur yang produksi normalnya 2 ton ha-1 dapat meningkat dengan SRI menjadi 8 ton ha-1 bahkan ada yang lebih dari 20 ton ha-1 (Berkelaar, 2001).
   Teknik SRI merupakan modifikasi metoda budidaya padi sawah yang pertama berkembang di Madagaskar dan saat ini telah menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Pola SRI ini juga merupakan cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan mengutamakan menajemen sistem perakaran dengan berbasis pada pengolahan tanah, tanaman, air dan perilaku budidaya dibandingkan dengan budidaya cara tradisional. Selain itu SRI merupakan sistem yang hemat air, input dari luar rendah dan berkesinambungan atau low external input sustainable agriculture (Berkelaar, 2001).
Keberhasilan SRI berlandaskan pada hubungan yang sinergis antara perkembangan anak-an dengan pertumbuhan akar. Tanaman dapat menyerap lebih banyak hara dan air yang dibutuh-kan untuk menghasilkan lebih banyak anakan dan hasil Defeng et al. (2002) sebagaimana diacu oleh Agustamar et al. (Agustamar et al., 2006). SRI mencakup umur pindah lebih awal, jarak tanam lebar, tanam satu-satu per lubang, aplikasi pupuk organik dan penggunaan air yang sedi-kit atau 50% dari metoda konvensional (Uphoff, 2001).
Djafar et al. (1996) mengemukakan bahwa bibit merupakan salah satu faktor penting da-lam usaha budidaya tanaman padi. Bibit yang berasal dari varietas unggul dengan pengelolaan yang baik sejak dini, akan mampu menghadapi hambatan dan persaingan di lapangan sehingga dapat menghasilkan produksi yang tinggi. Mutu bibit yang ditanam salah satunya dipengaruhi oleh umur bibit di persemaian sebelum ditanam. Bibit yang ditanam terlalu tua akan memper-lambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, akibatnya hasil menjadi rendah. Sebaliknya, bila pemindahan bibit terlalu cepat atau muda umurnya akan timbul resiko kegagalan produksi karena bibit masih lemah dan belum kuat mengatasi pengaruh lingkungan yang jelek dan akan rusak sewaktu dicabut.
Pada metoda SRI, bibit dipindahkan lebih awal yaitu saat bibit berumur 7-15 hari di per-semaian. Hal ini diharapkan agar bibit mampu beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan tumbuh sehingga bibit dapat melewati fase pertumbuhan vegetatif tepat pada waktunya dan da-pat menghasilkan jumlah anakan yang banyak sehingga mampu menghasilkan produksi yang tinggi dibandingkan dengan bibit yang tua. Bibit yang tua mengalami fase vegetatif yang lama di lapangan karena adaptasi lingkungan yang lambat sehingga waktu pembentukan anakannya pun terlambat. Dengan demikian kemampuan tanaman untuk menghasilkan anakan terbatas se-hingga jumlah anakan yang dihasilkan pun sedikit (Mario et al., 2005). Penelitian yang telah dilakukan oleh Djafar et el. (1996), menunjukkan bahwa umur bibit 5 hari dipersemaian mampu memberikan hasil yang tinggi.
Berdasarkan uraian diatas, telah dilaksanakan penelitian dengan judul Pertumbuhan Dan Hasil Padi Dengan Perbedaan Umur Bibit Pada Metoda SRI (System of Rice Intensification). Tujuannya adalah untuk mendapatkan umur bibit yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil padi pada metoda SRI.



METODA PENELITIAN

Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan sawah Balai Benih Induk (BBI) Padi Sukajaya Km. 37 Jalan Raya Jambi – Muara Bulian, Desa Jembatan Mas Kabupaten Batang Hari Jambi. Jenis tanah adalah alluvial dengan ketinggian tempat 10 m dpl, suhu 23,0 – 31,5 oC, kelembaban udara rata-rata 83,25%. Areal persawahan yang dijadikan untuk lokasi penelitian mendapat sumber air pengairan dari irigasi pompa. Penelitian dilaksanakan selama lebih kurang 5 bulan, mulai dari bulan Maret sampai Juli 2008. Varietas yang digunakan adalah Indragiri.
Rancangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 kelompok, sehingga seluruh percobaan terdiri dari 15 plot/ petakan percobaan. Dari masing-masing plot percobaan diambil secara acak 5 tanaman sampel. Perlakuan adalah umur bibit (faktor W), yakni:
W1 = bibit umur 5 hari
W2 = bibit umur 8 hari
W3 = bibit umur 11 hari
W4 = bibit umur 14 hari
W5 = bibit umur 17 hari
Persemaian dilakukan dengan seed bed yang telah diisi media persemaian berupa lumpur sawah yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 dan ditempatkan di de-kat lokasi penelitian. Penyemaian benih tidak serempak. Benih untuk bibit umur 17 hari disemai paling awal, disusul 3 hari kemudian disemai pula benih untuk bibit umur 14 hari, 3 hari kemu-dian disemai pula benih untuk bibit umur 11 hari, dilanjutkan 3 hari kemudian disemai pula benih untuk bibit umur 8 hari dan terakhir benih untuk bibit umur 5 hari disemai setelah penye-maian benih untuk bibit umur 8 hari.
Selama pertumbuhan vegetatif sawah tidak digenangi, air hanya diberikan untuk menjaga agar tanah tetap lembab. Petak percobaan diairi setinggi 3 cm mulai pada umur tiga hari setelah tanam, kemudian pintu masuk dan keluar nya air ditutup. Selanjutnya air dalam petakan dibiar-kan sampai habis dan pada saat tanah sudah mulai menunjukkan gejala retak, lahan diairi kem-bali. Demikian seterusnya sampai tanaman mencapai stadia primordia bunga. Pada stadia gene-ratif mulai umur 60 hari yaitu pada saat terjadi pembentukan malai bunga, air diberikan terge-nang setinggi 5 cm kemudian dikeringkan kembali 25 hari sebelem panen. Pada saat pemupukan dan pengendalian gulma dilakukan, petakan sawah dalam keadaan macak-macak.
Panen dilakukan satu kali yaitu pada umur 101 hari yang ditandai dengan 80% bulir da-lam satu plot percoban telah menguning (telah mencapai stadia masak fisiologis/masak penuh) yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut: Daun bendera sudah tua, berwarna kuning dan sebagian sudah kering (berwarna coklat).
Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan per rum-pun, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, bobot 1000 butir gabah bernas dan hasil. Persentase gabah hampa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis statistik dengan uji F terhadap pengamatan tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan per rumpun, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, bobot 1000 butir gabah bernas dan hasil. Pada analisis ragam tersebut terlihat bahwa perbedaan umur bibit padi 5, 8, 11, 14, dan 17 hari memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan per rumpun, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, bobot 1000 butir gabah bernas dan hasil padi dengan SRI. tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan per rumpun, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, bobot 1000 butir gabah bernas dan hasil padi dengan perbedaan umur bibit yang digunakan dalam metoda SRI dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.  Pengaruh umur bibit terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan per rumpun, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa, bobot 1000 butir gabah bernas dan hasil.

Umur Bibit
Tinggi tanaman (cm)
Jumlah anakan per rumpun (batang)
Jumlah anakan produktif (batang)
Panjang malai (cm)
Jumlah gabah per malai (butir)
Persentase gabah hampa (%)
Bobot 1000 butir (g)
Hasil
(ton ha-1)
5 hari
 97,13 a
25,20 a
19,73 a
23,20 a
166,40 a
11,47 a
20,47 a
7,37 a
8 hari
100,67 a
22,20 a
16,87 a
21,80 a
168,67 a
 9,84 a
21,67 a
6,56 a
11 hari
105,73 a
20,00 a
16,67 a
23,67 a
182,67 a
10,73 a
19,87 a
6,45 a
14 hari
101,73 a
26,13 a
17,53 a
22,07 a
184,27 a
11,37 a
20,57 a
7,50 a
17 hari
102,67 a
25,73 a
17,93 a
23,13 a
194,60 a
10,94 a
20,27 a
7,77 a
Keterangan:  Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji Duncan pada taraf nyata 5 %.

Dari percobaan ini diperoleh hasil bahwa perbedaan umur bibit tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa per rumpun, bobot 1000 butir gabah bernas dan hasil per petak. Pada perlakuan umur bibit diperoleh tinggi tanaman yang tidak berbeda de-ngan deskripsi padi yang digunakan pada percobaan ini. Rata-rata tinggi tanaman yang diper-oleh dari percobaan ini berkisar 97,13 – 105,73 cm. Hal ini disebabkan karena keadaan faktor genetis, sehingga memberikan pengaruh yang hampir sama pula terhadap tinggi tanaman padi. Seperti yang diungkapkan oleh Siregar (1981), bahwa tinggi tanaman adalah faktor genetis dari tanaman itu sendiri. Rata-rata tinggi tanaman yang diperoleh dari percobaan ini berkisar 97,13 – 105,73 cm.
Gardner et al. (1985) menambahkan bahwa pertumbuhan merupakan akibat adanya inter-aksi antara berbagai faktor internal pertumbuhan dan unsur iklim, tanah dan biologis. Pertum-buhan tinggi tanaman ini merupakan pertumbuhan vegetatif yang ditandai dengan terjadinya pertambahan panjang ruas yang dipengaruhi oleh tersedianya unsur hara terutama unsur nitro-gen, fosfor dan kalium. Pertambahan tinggi tanaman juga sebagai akibat dari meningkatnya jumlah sel.
Umur bibit mempengaruhi jumlah anakan per rumpun dan jumlah anakan produktif di mana tanaman padi yang ditanam pada umur bibit yang lebih tua menyebabkan tanaman kurang mampu membentuk anakan disebabkan oleh kondisi perakaran di persemaian yang semakin da-lam dan kuat sehingga waktu pemindahan mengalami kerusakan yang cukup berat. Hal ini juga dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh, di mana dengan kondisi tanah yang aerob pada SRI me-mungkinkan perkembangan anakan menjadi lebih banyak dan akar berkembang dengan baik. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan perlakuan umur bibit 5 hari, 8 hari, 11 hari, 14 hari dan 17 hari tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Hal ini disebabkan karena umur bibit 5-17 hari memberikan pengaruh yang sama terhadap jumlah anakan yang terbentuk. Mashur et al. (2002) menyatakan bahwa umur bibit tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan produktif antara umur bibit 15 hari dengan umur bibit 21 hari. Sembiring et al. (2001) menambahkan bahwa umur bibit berpengaruh terhadap perkembangan anakan sampai pada umur 15 hari setelah tanam, tetapi setelah itu jumlah anakan tidak nyata.
Pada deskripsi terlihat bahwa jumlah anakan produktif yang terbentuk berkisar antara 15 - 20 batang, ini sesuai dengan jumlah anakan produktif yang terbentuk saat percobaan berlang-sung, kemungkinan bisa jauh lebih banyak jika kondisi lingkungan tumbuh sesuai dengan meto-da SRI. Hal ini terjadi karena pada fase vegetatif tanaman padi kondisi tanah yang aerob jarang sekali terjadi dikarenakan curah hujan yang cukup tinggi (338 mm per bulan denagn banyaknya hari hujan 14 hari) sehingga mengakibatkan tanaman memiliki aerase yang buruk bagi akar ta-naman, dengan demikian kekurangan udara mungkin dapat menjadi penghambat pertumbuhan tanaman.
Perlakuan umur bibit tidak berpengaruh terhadap panjang malai ini diduga lebih dominan dipengaruhi oleh genetis tanaman itu sendiri dibandingkan dengan pengaruh lingkungan. Manu-rung dan Ismunadji (1988) menyatakan bahwa panjang malai tergantung pada varietas padi yang ditanam dan keadaan lingkungan. Ukuran panjang malai dibedakan menjadi tiga ukuran, yaitu 1) malai pendek yang berukuran kurang dari 20 cm, 2) malai sedang yang berukuran an-tara 20-30 cm, dan 3) malai panjang yang berukuran lebih dari 30 cm. Berarti tanaman padi yang digunakan pada percobaan ini termasuk malai sedang. Semakin panjangnya malai berpe-ngaruh terhadap jumlah gabah per malai. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan perlakuan umur bibit 5 hari, 8 hari, 11 hari, 14 hari dan 17 hari tidak memberikan pe-ngaruh yang nyata terhadap panjang malai. Hal ini disebabkan oleh faktor genetis tanaman itu sendiri. Selain faktor genetis, faktor lingkungan juga memberikan pengaruh terhadap panjang malai karena keadaan lingkungan yang relatif sama pada tiap plot percobaan
Jumlah gabah yang terbentuk pada masing-masing malai menurut Darwis (1979) ditentu-kan oleh panjang malai dan jumlah cabang malai, di mana masing-masing akan menghasilkan gabah. Perkembangan jaringan pembuluh sumbu utama malai ke cabang malai dan dari cabang malai ke gabah dipengaruhi oleh ketersediaan air dan unsur hara yang diserap dari tanah. Sema-kin kuat jaringan pembuluh maka semakin banyak gabah yang terbentuk dan perkembangan ga-bah lebih cepat. Soemartono et al. (1985) menyatakan bahwa hasil-hasil fotosintesis dan asimi-lasi yang disimpan pada daun akan ditranslokasikan ke malai melalui pembuluh floem dengan bantuan air yang diserap oleh akar tanaman. Namun banyaknya jumlah gabah per malai tidak mempengaruhi persentase gabah hampa melainkan mempengaruhi bobot 1000 butir tanaman padi.
Persentase gabah hampa yang rendah disebabkan karena pemupukan kalium dan fosfor diberikan sesuai dengan rekomendasi umum sehingga diduga tanaman tidak kekurangan unsur hara. Menurut Soegiman (1969), bahwa kalium pada tanaman padi berperan dalam pembentuk-an butir gabah padi, sehingga dengan pemberian kalium yang cukup pada tanaman padi dapat mengurangi resiko gabah hampa.
Sedangkan untuk bobot 1000 butir gabah bernas lebih rendah (20,57 g) jika dibandingkan dengan deskripsi (24-25 g) hal ini diduga karena ukuran gabah yang kecil sehingga mempenga-ruhi berat dari gabah tersebut. Semakin beratnya gabah diduga disebabkan oleh semakin baik-nya proses terbentuknya lemma dan pallea, sehingga terjadi peningkatan ukuran gabah. Menurut Manurung dan Ismunaji (1988), berat 1000 biji gabah tergantung kepada ukuran lemma dan palleanya. Darwis (1979) juga menambahkan bahwa berat 1000 biji gabah biasanya merupakan ciri yang stabil dari suatu varietas, besarnya biji juga ditentukan oleh ukuran kulit yang terdiri dari lemma dan pallea.
Meskipun bobot 1000 butir gabah bernas lebih rendah dengan deskripsi, namun hasil ta-naman padi jauh lebih tinggi (7,13 ton ha-1) dibandingkan dengan deskripsi (4,5-5,5 ton ha-1). Hal ini terjadi dikarenakan padi yang ditanam pada percobaan ini menggunakan metoda SRI, di mana dengan metoda SRI tanaman berkemampuan untuk menghasilkan anakan dan anakan pro-duktif yang lebih banyak karena kondisi lingkungan yang aerob sehingga kemampuan tanaman melakukan fotosintesis jauh lebih tinggi dan asimilasi yang terbentuk juga lebih banyak sehing-ga bulir yang terbentuk dapat memberikan hasil yang banyak pula.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh hasil dengan rata-rata 7,13 ton ha-1 dengan jumlah anakan antara 15-20 anakan per rumpun, ini lebih rendah jika dibanding-kan dengan Sumatera Barat (9,96 ton ha-1) dan Sukamandi (9,5 ton ha-1) yang juga ditanam pada metoda SRI menggunakan varietas Batang Piaman (Sumatera Barat) dan varietas Cisokan (Sukamandi), dengan jumlah anakan yang terbentuk berkisar antara 44 - 74 anakan per rumpun. Hal ini diduga karena pada percobaan yang telah dilaksanakan menggunakan padi varietas Indragiri, yang secara genetis mempunyai kemampuan yang berbeda bila dibandingkan dengan varietas Cisokan dan Batang Piaman yang bersifat amfibi (lebih adaptif terhadap lingkungan dengan metoda SRI).


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilaksanakan serta pengolahan data pengamatan dari perbeda-an umur bibit padi pada metoda SRI (System of Rice Intensification) dapat disimpulkan bahwa perbedaan umur bibit 5, 8, 11, 14 dan 17 hari tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per ma-lai, persentase gabah hampa, bobot 1000 butir gabah bernas dan hasil padi dengan metoda SRI.

Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan umur bibit yang terbaik bagi metoda SRI dengan varietas yang berbeda dari yang telah dicobakan.


DAFTAR PUSTAKA

Agustamar, M., Kasim, Agustian dan Z. Syarif. 2006. Berbagai bahan organik terhadap pertumbuhan dan produksi padi dengan metode SRI (The System Of Rice Intensification) pada sawah bukaan baru. Jurnal Tanaman Tropika 9: 60-69.
Badan Pusat Statistik. 2007. www.bps.go.id. Diakses November 2007.
Berkelaar, D. 2001. Sistem Intensifikasi Padi (The System of Rice Intensification): Sedikit Dapat Memberi Banyak, Madagaskar.
Buckman, H. O. dan N. C. Braddy. 1969. The Nature and Properties of Soil (terjemahan Soegiman). Bhatara Karya Aksara, Jakarta.
Darwis, S. N. 1979. Agronomi Tanaman Padi. Lembaga Pusat Penelitian Pertanian Perwakilan Padang, Padang.
Djafar, Z. R., H. Rosida dan F. Sulaiman. 1996. Pengaruh Umur Bibit terhadap Komponen Hasil dan Hasil Padi (Oryza sativa L). Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Ilmu Pertanian BKS-PTN Wilayah Barat. Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang.
Gardner, F. D., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1985. Physiology of Crops Plants. Iowa State University Press, Ames, USA.
Manurung, S. O. dan Ismunadji. 1988. Morfologi dan Fisiologi Padi dalam Padi (Buku 1). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian Tanaman dan Pengembang Tanaman Pangan, Bogor.
Mario, M. D., R. H. Anasiru, I. G. P. Sarasutha dan H. Hasni. 2005. Introduksi model TT dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani padi di Sulawesi Tengah. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 8: 192-205.
Mashur, D. Praptomo, L. Wirajaswadi dan A. Muzani. 2002. Pengembangan Program Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) untuk Meningkatkan Pendapatan Petani di Nusa Tenggara Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat, Mataram.
Sembiring, L. Wirajaswadi, A. Hipi, Sirajuddin dan H. M. Toha. 2001. Pengelolaan Tanaman Terpadu Budidaya Padi Sawah di Kabupaten Lombok Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat, Lombok Barat.
Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Udaya, Jakarta.
Soemartono, B. Samad dan R. Harjono. 1985. Bercocok Tanam Padi. CV. Yasaguna, Jakarta.
Uphoff, N. 2001. The System of Rice Intensification: Agricultural Opportunities for Small Farmers. ILEIA Newsletter.
Utomo, M. dan Nazaruddin. 2003. Bertanam Padi Sawah tanpa Olah Tanah. Penebar Swadaya, Jakarta.





[1] Mahasiswa Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
[2] Staf Pengajar pada Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

Komentar