Hasil Penelitian Kultur Jaringan Jarak Pagar


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Bobot Segar Kalus
Hasil analisis ragam terhadap bobot segar kalus menunjukan bahwa pemberian kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino berpengaruh nyata dalam memacu pertambahan bobot segar kalus. Hasil pengamatan pengaruh beberapa kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino terhadap penambahan bobot segar kalus dapat dilihat pada tabel 3 (Lampiran 3).
Tabel 3. Pengaruh beberapa kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino terhadap penambahan bobot segar kalus
Kombinasi Zat pengatur Tumbuh dan Asam Amino
Bobot Segar Kalus
Prolin 25µM (T9)
1,18 a
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D (T5)
1,02 b
Prolin 50µM (T8)
1,01 b
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat (T3)
0,97 bc
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin (T1)
0,91 bc
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D (T6)
0,87 cd
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat (T4)
0,78 de
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin (T2)
0,76 de
Manitol 3% (T7)
0,71 e
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukan berbeda nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf α = 5%
Pada tabel 3 diatas dapat dilihat bahwa penambahan bobot segar kalus dengan perlakuan Prolin 25µM mendapatkan hasil tertinggi dengan nilai 1,18 sehingga berbeda nyata bila dibandingkan dengan perlakuan  1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D, Prolin 50µM, 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin, dan perlakuan Manitol 3%.
            Pada perlakuan 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D dengan penambahan bobot segar kalus dengan nilai 1,02 tidak berbeda nyata bila dibandingkan dengan perlakuan Prolin 50µM, 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin. Akan tetapi berpengaruh nyata bila dibandingkan dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin, dan perlakuan Manitol 3%.
            Perlakuan 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin tidak berbeda nyata dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D. Namun berbeda nyata dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin, dan perlakuan Manitol 3%.
            Perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D tidak berbeda nyata dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, dan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin. Akan tetapi berbeda nyata dengan perlakuan manitol 3%.
             Terlihat dari tabel 3 bahwa perlakuan prolin 25µM (T9) memberikan rata – rata penambahan bobot segar kalus tertinggi dengan nilai 1,18. Sementara hasil terendah pada pengamatan penambahan bobot segar kalus diperoleh dari perlakuan tanpa pemberian kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino atau manitol 3% (T7) dengan nilai 0,71.
4.1.2 Diameter Kalus
Hasil analisis ragam terhadap penambahan diameter kalus menunjukan bahwa pemberian kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino berpengaruh nyata dalam memacu pertambahan diameter kalus. Hasil pengamatan pengaruh beberapa kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino terhadap penambahan bobot segar kalus dapat dilihat pada tabel 4 (Lampiran 4).
Tabel 4. Pengaruh beberapa kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino terhadap penambahan diameter kalus.
Kombinasi Zat pengatur Tumbuh dan Asam Amino
Diameter Kalus
Prolin 25µM (T9)
3,19 a
Prolin 50µM (T8)
2,78 ab
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D (T5)
2,72 abc
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D (T6)
2,56 bc
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat (T3)
2,41 bc
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin (T1)
2,21 cd
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat (T4)
1,72 de
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin (T2)
1,5 e
Manitol 3% (T7)
0,94 f
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukan berbeda nyata menurut Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf α = 5%                                                                                                                                                    
            Pada tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa penambahan diameter segar kalus dengan perlakuan Prolin 25µM mendapatkan hasil tertinggi dengan nilai 3,19 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan Prolin 50µM, dan 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D tetapi berbeda nyata dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D, 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin, dan Manitol 3%.
            Perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D dengan penambahan diameter sebesar 2,56 tidak berbeda nyata dengan perlakuan 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, dan 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin. Namun, berbeda nyata dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin, dan Manitol 3%.
            Perlakuan 1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin dengan penambahan diameter sebesar 2,21 tidak berbeda nyata dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin dan perlakuan Manitol 3 %.
            Perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat tidak berbeda nyata dengan perlakuan 2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin. Namun berbeda nyata dengan perlakuan Manitol 3 %. Sedangkan perlakuan Manitol berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
Terlihat dari tabel 4 bahwa perlakuan prolin 25µM (T9) memberikan rata – rata penambahan diameter kalus tertinggi dengan nilai 3,19. Sementara hasil terendah pada pengamatan penambahan diameter kalus diperoleh dari perlakuan tanpa pemberian kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino atau manitol 3% (T7) dengan nilai 0,94.
4.1.3 Warna Kalus
            Pengamatan visual terhadap warna kalus yang terbentuk pada eksplan daun yang dikulturkan pada media yang dilengkapi dengan berbagai kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh beberapa kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino terhadap warna kalus.
Kombinasi ZPT dan Asam Amino
Warna Kalus
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin
Warna kalus krem, hijau, dan hijau keputihan
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Glutamin
Warna kalus krem dan coklat dengan dominasi warna krem
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat
Warna kalus hijau, krem, dan hijau kekuningan dengan dominasi warna hijau
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D + 100 ppm Casein Hidrolisat
Warna kalus krem dan hijau kekuningan dengan dominasi warna krem
1 ppm TDZ + 1 ppm 2,4-D
Warna kalus hijau, hijau kekuningan dan krem dengan dominasi warna hijau
2 ppm BAP + 1 ppm 2,4-D
Warna kalus hijau dan krem dengan dominasi warna krem
Manitol 3%
Warna kalus hijau, coklat, hijau kekuningan dan krem dengan dominasi warna krem
Prolin 50µM
Warna kalus hijau, krem, hijau kekuningan, hijau kecoklatan dan coklat dengan dominasi warna hijau
Prolin 25µM
Warna kalus hijau, hijau kekuningan, hijau kecoklatan, kuning kecoklatan, dan krem dengan dominasi warna hijau

 


          Hijau                                                  Hijau keputihan                                               Krem

 

Hijau kekuningan                                                      Hijau kecoklatan                                            Coklat
Gambar 1. Warna kalus yang terbentuk pada kalus dengan berbagai kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino

4.1.4 Struktur Kalus
            Sama halnya dengan warna, hasil pengamatan visual terhadap struktur tidak memperlihatkan adanya perbedaan pada kalus yang diproliferasikan di berbagai kombinasi zat pengatur tumbuh dan asam amino. Struktur kalus yang terbentuk dari eksplan daun jarak pagar didominasi oleh struktur kalus yang kompak (Gambar 2).