Skripsi Hasil : Skripsi Penelitian Tanaman Cabai



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Tinggi Tanaman (cm)
Berdasarkan hasil analisis ragam pada Lampiran 7 menunjukkan bahwa  kombinasi penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dan dua varietas cabai memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman cabai. Hasil uji jarak  Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman dua varietas tanaman cabai menurut pemberian Mulsa Plastik Hitam perak dan Tanpa Mulsa (cm).
Kombinasi varietas cabai dan MPHP
Rata-rata Tinggi Tanaman (Cm)
Mario + MPHP

37.11 a
Jatilaba + MPHP

29.79 b
Mario + Tanpa MPHP
28.63 b
Jatilaba + Tanpa MPHP
28.60 b
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama berarti tidak berbeda nyata menurut   uji BNT α= 5% .
            Cabai varietas Mario yang menggunakan MPHP menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman yang paling tinggi dan berbeda nyata dengan cabai varietas Jatilaba menggunakan MPHP, varietas Mario tanpa MPHP, dan cabai varietas Jatilaba tanpa MPHP. Sedangkan cabai varietas Jatilaba yang yang menggunakan MPHP tidak berbeda nyata dengan cabai varietas Mario tanpa MPHP maupun cabai varietas Jatilaba tanpa MPHP (Tabel 1).

4.1.2. Umur Berbunga (hari)
Berdasarkan hasil analisis ragam pada Lampiran 8 menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dan dua varietas cabai memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap umur berbunga tanaman cabai. Hasil uji jarak Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% disajikan pada tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata umur berbunga tanaman dua varietas tanaman cabai menurut pemberian Mulsa Plastik Hitam perak dan Tanpa Mulsa (hari).
Kombinasi varietas cabai dan MPHP
Rata-rata Umur Tanaman (hari)
Jatilaba+ Tanpa MPHP

41.97 a
Jatilaba + MPHP

41.81 a
Mario + Tanpa MPHP
39.11 a
Mario + MPHP
38.78 a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama berarti tidak berbeda nyata menurut  uji BNT α= 5%

4.1.3. Jumlah Buah Per Tanaman (buah)
Berdasarkan hasil analisis ragam pada Lampiran 9 menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dan dua varietas cabai  memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah buah  tanaman cabai. Hasil uji jarak  Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% disajikan pada tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata jumlah buah pertanaman dua varietas tanaman cabai menurut  pemberian Mulsa Plastik Hitam perak dan Tanpa Mulsa (buah).
Kombinasi varietas cabai dan MPHP
Rata-rata Jumlah Buah (buah)
Mario + MPHP

 2.52 a*)
Mario + Tanpa MPHP

2.35 a
Jatilaba + MPHP
1.77 b
Jatilaba + Tanpa MPHP
1.55 b
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf α=  5 %.
                      *) Data di Transformasi dengan  Transformasi Logaritma
Bahwa cabai varietas Mario yang menggunakan MPHP tidak berbeda nyata dengan cabai varietas Mario tanpa MPHP tetapi berbeda nyata dengan cabai varietas Jatilaba menggunakan MPHP maupun cabai varietas Jatilaba tanpa MPHP. Sedangkan cabai Jatilaba yang menggunakan MPHP tidak berbeda nyata terhadap pemberian cabai varietas Jatilaba tanpa MPHP (Tabel 3).
4.1.4. Bobot Buah Pertanaman (g)
Berdasarkan hasil analisis ragam pada Lampiran 10 menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dan dua varietas cabai memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap bobot buah pertanaman. Hasil uji jarak  Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% disajikan pada tabel 4.
Tabel 4.Rata-rata bobot buah dua varietas tanaman cabai menurut pemberian  Mulsa Plastik Hitam perak dan Tanpa Mulsa (g).
Kombinasi varietas cabai dan MPHP
Rata-rata Bobot Buah (g)
Jatilaba + MPHP

   1.91 a *)
Mario + MPHP

1.90 a
Mario + Tanpa MPHP
1.89 a
Jatilaba + Tanpa MPHP
1.80 a
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT taraf α= 5 %.
                      *) Data di Transformasikan dengan Transformasi Logaritma


4.1.5. Berat Pupus (g)
 Berdasarkan hasil analisis ragam pada Lampiran 11 menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dan dua varietas cabai memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat pupus tanaman cabai. Hasil uji jarak  Beda Nyata Terkecil(BNT) pada taraf 5% disajikan pada tabel 5.
Tabel 5. Rata-rata Berat Pupus Tanaman Dua Varietas Tanaman Cabai Menurut
Pemberian Mulsa Plastik Hitam perak dan Tanpa Mulsa (g).
Kombinasi varietas cabai dan MPHP
Rata-rata Berat Pupus (g)
Mario + MPHP

19.51 a
Jatilaba + MPHP

  16.31 ab
Mario + Tanpa MPHP
  15.68 bc
Jatilaba + Tanpa MPHP
12.14 c
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji  BNT taraf 5 %.

                     
                Cabai varietas Mario yang menggunakan MPHP menunjukkan berat pupus yang paling tinggi. Cabai varietas Mario yang menggunakan MPHP berbeda nyata terhadap cabai varietas Jatilaba tanpa MPHP dan cabai varietas Mario maupun varietas Jatilaba tanpa MPHP. Sedangkan cabai varietas Jatilaba yang menggunakan MPHP tidak berbeda nyata terhadap varietas Mario yang diberi MPHP, begitu juga cabai Jatilaba menggunakan MPHP tidak berbeda nyata dengan cabai varietas mario tanpa MPHP dan cabai varietas Mario tanpa MPHP juga menunjukkan berat pupus yang tidak berbeda nyata dengan cabai varietas Jatilaba tanpa menggunakan MPHP.

4.1.6. Hasil Produksi 2X Panen (ton)
Berdasarkan hasil analisis ragam pada Lampiran 12 menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dan dua varietas cabai  memberikan pengaruh yang nyata terhadap Hasil Produksi 2x panen tanaman cabai. Hasil uji jarak  Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% disajikan pada tabel 6.
Tabel 6. Rata-rata hasil produksi 2x panen dua varietas tanaman cabai menurut pemberian Mulsa Plastik Hitam perak dan Tanpa Mulsa (ton).
Kombinasi varietas cabai dan MPHP
Rata-rata Hasil Produksi (ton)
Mario + MPHP

   1.41 a *)
Mario + Tanpa MPHP

1.28 a
Jatilaba + MPHP
1.01 b
Jatilaba + Tanpa MPHP
0.87 b
Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji  BNT taraf 5 %.
                      *) Data di Transformasikan dengan Transformasi Kuadratik

Cabai varietas Mario yang diberi MPHP menunjukkan hasil produksi yang tertinggi. Cabai varietas Mario yang menggunakan MPHP maupun tanpa menggunakan MPHP menunjukkan hasil produksi panen yang tidak berbeda nyata, tetapi memberikan pengaruh nyata terhadap cabai varietas Jatilaba menggunakan MPHP maupun tanpa MPHP. Sedangkan varietas cabai Jatilaba yang diberi MPHP maupun tanpa MPHP menunjukkan hasil panen yang tidak berbeda nyata (Tabel 6).
4.1.7. Persentasi Hama dan Penyakit
Berdasarkan hasil analisis ragam pada Lampiran 13 menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) dan dua varietas cabai  memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap jumlah hama dan penyakit tanaman cabai. Hasil uji jarak  Beda Nyata Terkecil(BNT) pada taraf 5% disajikan pada tabel 7.


Tabel 7. Rata-rata persen hama dan penyakit dua varietas tanaman cabai menurut pemberian Mulsa Plastik Hitam perak dan Tanpa Mulsa.
Kombinasi varietas cabai dan MPHP
Persentasi Tanaman (%)
Jatilaba + MPHP

29.73 a
Jatilaba + Tanpa MPHP

24.97 a
Mario + Tanpa MPHP
24.93 a
Mario + MPHP
20.20 a
Keterangan:    Nilai rata-rata yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji  BNT taraf 5 %.


4.2. Pembahasan
            Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 7 bulan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Jenis tanahnya adalah ultisol dengan ciri morfologinya berwarna kuning kecoklatan hingga merah. Dalam penelitian ini menggunakan bahan oganik yang bertujuan untuk memperbaiki agregat tanah. Adapun bahan organik yang digunakan ialah Trichokompos dan MOL Keong Mas sebagai pupuk daun, MOL Keong Mas mengandung unsur hara makro dan mikro salah satunya mengandung unsur N yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman yaitu untuk merangsang pertumbuhan tanaman, Simbolon (2003) .
            Berdasarkan hasil sidik ragam yang dilakukan diketahui bahwa pemberian Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) pada dua varietas cabai memberikan pengaruh nyata terhadap beberapa varieabel yang diamati diantaranya tinggi tanaman, jumlah buah pertanaman, berat pupus, dan hasil produksi 2X panen, akan tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga, bobot buah pertanaman, dan persentase hama dan penyakit.
Hasil uji lanjut BNT α = 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) varietas Mario memberikan hasil yang tertinggi. Pengaruh nyata dari penggunaan mulsa menunjukkan bahwa mulsa dapat meningkatkan proses fotosintesis tanaman dan dapat mempertahankan kesuburan tanah sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Hal ini disebabkan karena mulsa dapat mempertahankan kesuburan tanah serta kelembaban tanah sebagai akibat dari pengaruh mulsa yang dapat menekan laju evaporasi sehingga kandungan air tanah cukup bagi pertumbuhan tanaman (Wan Afriani, 2006 ). Pemberian Mulsa Plastik Hitam Perak merupakan upaya memperbaiki kondisi lingkungan tanaman dalam hal penyedian unsur hara dalam tanah, sehingga menjadi subur. Hasil dari analisis tanah awal memperlihatkan bahwa kandungan unsur hara di dalam tanah masih rendah. Analisis terhadap pH tanah menunjukkan angka 4,40 berarti tanah tersebut bersifat masam (Lampiran 14). pH tersebut belum ideal untuk budidaya tanaman Cabai, karena pH yang ideal untuk budidaya tanaman Cabai ialah 5,5-6,8. Efektifitas penggunaan mulsa plastik diperoleh dari kemampuan fisik mulsa plastik melindungi tanah dari terpaan langsung butir hujan, menggemburkan tanah-tanah di bawahnya, mencegah pencucian hara, mencegah percikan butir tanah ke tanaman, mencegah penguapan air tanah, dan memperlambat pelepasan karbon dioksida tanah hasil respirasi aktivitas mikroorganisme. Pada analisis tanah akhir terlihat pH tanah menjadi 4,69 tanpa menggunakan mulsa plastik hitam perak, sedangkan pH tanah yang menggunakkan mulsa plastik hitam perak pHnya 4,62. Pada tanah-tanah yang tidak diberi mulsa ada kecenderungan menurunnya bahan organik tanah, dan sebaliknya pada tanah-tanah yang diberi mulsa bahan organiknya cukup mantap dan cenderung meningkat. Selain penggunaan mulsa, mungkin ada banyak faktor seperti faktor lingkungan, faktor genetik, faktor varietas, dan faktor perlakuan. Disini dikatakan bahwa varietas Mario menggunakan mulsa menunjukkan tinggi tanaman yang lebih tinggi karena varietas Mario ini mampu berkembang didataran tinggi maupun rendah, sedangkan Jatilaba ini lebih baik hidupnya jika berada diiklim yang tinggi.
Hasil uji lanjut BNT pada taraf α = 5% terhadap umur berbunga memberikan pengaruh yang tidak nyata. Tidak adanya peningkatan pada umur berbunga pengaruh genetik dari varietas daripada pengaruh Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP). Sutedjo (2006), menyatakan bahwa bila salah satu faktor lebih kuat pengaruhnya dari faktor lain maka faktor lain tersebut akan tertutupi, dan masing-masing faktor mempunyai sifat yang jauh berpengaruh pengaruhnya dan sifat kerjanya, maka akan menghasilkan hubungan yang berpengaruh dalam mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman.
Hasil uji lanjut BNT terhadap jumlah buah menunjukkan bahwa pemberian MPHP varietas Mario memberikan hasil jumlah buah yang paling banyak. Jumlah buah berkaitan dengan tinggi tanaman, dengan bertambahnya tinggi tanaman yang juga mengakibatkan pertambahan cabang tempat tumbuhnya sebagian banyak daun sehingga mempengaruhi jumlah bunga yang dihasilkan. Daun sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis akan menghasilkan fotosintat yang akan berpengaruh terhadap jumlah bunga demikian juga jumlah buah, sedangkan tanpa menggunakan MPHP varietas Jatilaba menunjukkan jumlah buah yang paling rendah. Jumlah buah dipengaruhi oleh jumlah batang yang dibentuk oleh tanaman, pertambahan jumlah  batang sejalan dengan tinggi tanaman, semakin tinggi tanaman maka jumlah batang yang dihasilkan semakin banyak, batang sangat dibutuhkan untuk mendukung pembentukan bunga dan buah (Yasin, 2009). Berdasarkan hasil tinggi tanaman tanpa pemberian MPHP varietas Jatilaba menghasilkan tinggi tanaman yang paling rendah sedangakan penggunaan MPHP varietas Mario menghasilkan tinggi tanaman yang paling tinggi sehingga jumlah buah yang dihasilkan pada pemberian MPHP  varietas Mario lebih tinggi.
Hasil uji lanjut BNT α = 5% terhadap bobot buah pertanaman memberikan hasil yang tidak meningkat, dimana tanpa penggunaan MPHP varietas Jatilaba lebih rendah bobot buahnya dibandingakan perlakuan yang lainnya, ini disebabkan oleh faktor sulitnya cabai Varietas Jatilaba untuk berbuah karena dilihat dari deskripsinya dapat hidup didataran tinggi dan buahnya pun sebelum merah/ masak mengalami busuk buah yang diakibatkan penyakit antraknosa. Hal ini sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh Syamsuddin (2007) yang menyatakan bahwa antraknosa adalah penyakit terpenting yang menyerang cabai di Indonesia. Penyakit ini distimulir oleh kondisi lembab dan suhu relatif tinggi. Antraknosa dapat menyebabkan kerusakan dari persemaian sampai tanaman cabai berbuah, dan masalah utama pada buah masak, serta penurunan hasil dan penyebaran penyakit. Adapun Hamanya ialah lalat buah (Daucus sp.) dan ulat penggorok buah. Hama perusak buah ini terutama ditemui pada polong muda atau menjelang masak. Buah yang terserang lalat buah ditandai dengan ditemukan noda-noda kecil bekas tusukan ovipositor serangga, kulit buah berwarna agak kekuningan, apabila buah dibuka biji berwarna hitam dan di dalam polong yang terserang sering ditemui larva. Dan juga varietas Mario juga tahan terhadap penyakit antraknosa. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hayati (2001) yang menyatakan bahwa peningkatan produksi cabai dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang berdaya hasil tinggi.
Hasil uji lanjut BNT pada taraf α = 5% terhadap berat pupus menunjukkan varietas Jatilaba tanpa MPHP lebih rendah berat pupusnya dibandingakn dengan perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan varietas Mario hal ini diduga kebutuhan unsur hara untuk kultivar cabai merah ini belum tercukupi, Suwandi (2009) mengungkapkan tanaman yang kekurangan unsur hara akan menghambat pertumbuhan tanaman salah satunya menyebabkan tanaman menjadi kerdil. Berdasarkan analisis tanah awal (Lampiran 14) kandungan N nya 0,155, P nya 3,80, K nya 0,23 setelah menggunakan MPHP kandungan N,P,K nya meningkat dibandingkan dengan tanpa MPHP, hal ini dikarenakan MPHP dapat menambah unsur hara yang ada dalam tanah sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai.
Hasil uji lanjut BNT pada taraf α = 5% terhadap hasil produksi 2X panen menunjukkan bahwa penggunaan MPHP varietas Mario meningkatkan hasil produksi dibandingkan perlakuan lainnya. Semakin tingginya tanaman berpengaruh juga terhadap hasil produksi, pada varietas Jatilaba  tanpa menggunakan MPHP  dapat menghasilkan produksi lebih sedikit dikarenakan saat penelitian data curah hujan berdasarkan data curah hujan yang diperoleh dari Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika 2012 (Lampiran 16) hanya sedikit tidak sesuai dengan curah hujan yang diperlukan untuk tanaman cabai, sehingga mengakibatkan kekeringan walaupun masih dilakukannya penyiraman, dengan penggunaan MPHP dapat meningkatkan kelembabapan tanah, dan dapat memperbaiki kondisi lingkungan tanaman dalam hal penyedian unsur hara dalam tanah, dan memperbaiki iklim mikro dan varietas Mario dapat meningkatkan hasil dibandingkan Jatilaba dikarenakan Mario dapat tumbuh didaerah dataran rendah maupun tinggi, tahan terhadap penyakit busuk buah sehingga penggunaan MPHP varietas Mario menunjukkan hasil produksi yang lebih tinggi.
Hasil uji lanjut BNT pada taraf α = 5% terhadap persentase hama dan penyakit menunjukkan penggunaan MPHP varietas Jatilaba  persentase penyakitnya yan lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan, faktor varietas, faktor perlakuan. Faktor Lingkungan merupakan keadaan iklim yang terjadi selama penanaman sampai panen, seperti pada penelitian ini juga ketika memasuki fase pembungaan cuacanya sangat panas dan ditambah dengan kabut sehingga bunga yang akan menjadi bakal buah rontok.  Berdasarkan data kelembaban udara yang diperoleh selama penelitian berlangsung terdapat kelembaban yang tinggi (Lampiran17 ). Selanjutnya Midmore (1983) mengatakan bahwa suhu tanah siang hari lebih berpengaruh dibandingkan suhu tanah malam hari. Sedangkan faktor varietas, varietas Jatilaba ini tidak mampu beradaptasi pada iklim yang ada pada daerah penelitian ini sehingga persentase penyakit yang dihasilkan lebih tinggi meskipun menggunkan MPHP.
Pertumbuhan dan hasil tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan, faktor genetik yaitu ketahanan tanaman terhadap hama dan pathogen serta kekeringan dan sifat tanaman yang hybrid sedangkan factor lingkungan meliputi suhu, ketersediaan air, cahaya matahari, struktur dan komposisi tanah, reaksi tanah serta mikroorganisme. Faktor lingkungan merupakan keadaan iklim yang terjadi selama penanaman sampai panen. Berdasarkan data kelembaban udara yang diperoleh selama penelitian berlangsung terdapat kelembaban udara yang tinggi. Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat menurunkan suhu 3oC dibandingkan dengan tanpa MPHP.
                                      

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Kombinasi penggunaan MPHP dan dua varietas cabai berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah buah pertanaman, hasil produksi 2X panen, dan berat pupus.
2.      Penggunaan varietas Mario yang diberi MPHP berpengaruh terhadap variabel tinggi tanaman cabai, jumlah buah pertanaman, hasil produksi 2X panen dan berat pupus.
5.2. Saran
Disarankan untuk kajian lebih lanjut tentang berbagai varietas Cabai dan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) pada lokasi penelitian yang berbeda dan periode pembungaan yang lebih lama sehingga didapat hasil tanaman yang sesungguhnya.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, 2004. Teknik Pemberian Pupuk Organik dan Mulsa Pada Budidaya Mentimun Jepang., Buletin Teknik PertanianVol. 10 No.2, 20005 diakses dari http://www.pustaka. Deptan . go.id/publication/bt 102054,pdf pada tanggal 11 desember 2011.

Agromedia. 2007. Budidaya Cabai Merah Pada Musim Hujan. Jakarta: PT. Agromedia pustaka.

Agung, 2007. Budidaya Cabai Merah Pada Musim Hujan. AgroMedia Pustaka. Jakarta. Hal 1.

Alleyne, E.H. and F.O. Morrison. 1978.  The lettuce root aphid, Pemphigus bursaries L. Homothera:Aphidoidae) in Cquebec Cananada. Ann. Soc. Ent. Quebec.  22:171-180

Asnawi, R. dan Dwiwarni, I., 2000. Pengaruh Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Enam Varietas Cabai (Capsicum annuum Liin). Jurnal Agrotropika Vol. V No.1 Juni 2000 : 5-8.

AVRDC.1994. Asian Vegetable Research and Development Center.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2012. Data Iklim Stasiun Klimatologi Jambi Periode Mei-Desember 2012. Jambi.


Baron, J.J. and S.F. Gorske. 1981. Soil carbon dioxide level  as affected by plastic mulches. Proc. Natl. Agr. Plastic Congress. 16:149-155.

Dahana, K dan Warisno. 2010. Peluang Usaha dan Budidaya Cabai. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Decoteau, D.R., M.J. Kasperbauer, D.D. Daniels and P.G. Hunt. 1988. Plastic mulch color effects on reflected light and tomato plant growth. Scientia Hortic. 34:169-175.

Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi. 2011. Database Varietas Hortikultura Kementriaan Pertanian R.I., Jakarta.

Djarwaningsih, T. 1984. Jenis- jenis Cabai di Indonesia, dalam Penelitian Peningkatan Pendayagunaan Sumber Daya Alam, hlm 232-235.

Fahrurrozi et al. 2006. Pengaruh Mulsa Plastik Hitam perak. Bandung. Diakses 26 desember 2012.

Fahrurrozi. 2009. Fakta Ilmiah Dibalik Penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak dalam Produksi Tanaman Sayuran. STIPER. Rejang Lebong.

Fahrurrozi. 1995. Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil Paprika (Capsicum annuum L.) jenis Bell dan populasi aphid. Jurnal Penelitian Universitas Bengkulu II (4) : 1 - 8.

Fahrurrozi and K.A. Stewart. 1994.  Effects of mulch optical properties on weed growth and development. HortScience 29 (6):545.

Fahrurrozi, K.A. Stewart and S. Jenni.  2001. The early growth of muskmelon in mulched mini-tunnel containing a thermal-water tube.  I. The carbon dioxide concentration in the tunnel. J. Amer. Soc. For Hort. Sci.. 126:757-763.

Gusmin, E. 1996.  Pengaruh berbagai jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun. Skripsi S-1 Fakultas Pertanian.

Handayani, M. 1996. Pengaruh Enam Jenis Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Semangka (Citrullus vulgaris L.). Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Handoko. 1995. Budidaya Tanaman Cabai. Penebar swadaya. Jakarta.

Hapernas, dan R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hayati. 2001. Budidaya Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hills, D.E., L. Hankin, and G.R. Stephens.  1982.  Mulches: Their effect on fruit set, timing and yield of vegetables. Conn. Agr. Exp. Sta. Bulletin.  805.

Hopen, H.J. and N.F. Oebker. 1975. Mulch effects on ambient carbon dioxide levels and growth of several vegetables. HortScience. 10:159-161.

Jumani. 2008. PerakaranTanaman Cabai. Penebar Swadaya.Jakarta

Kusbiantoro, B., Sukarna, E. dan Djakarta, M., 2007. Pengaruh Penggunaan Mulsa Plastik Hitam dan Pola Tanam Pada Produksi Cabe Merah., Seminar hasil pengkajian dan desiminasi 12 januari 2007.

Koryati, T. 2004. Pengaruh Pengunaan Mulsa dan Pemupukan Urea Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Cabai Merah (Capsicum annum L). Jurnal Penelitian Bidang Ilmu Pertanian Vol 2 No.1 April 2004 : 13-16. Diakses 18 Maret 2012.
Lamont, W. J. 1993. Plastic mulches for the production of vegetable crops. HorTechnology. 3 (1) : 35-38

Locascio, S.J. J.G.A. Fiskell, and D.A. Graetz,. 1985. Nitrogen accumulation by pepper as influenced by mulch and time of fertilizer application. HortScience. 110 (3) : 325-328.

Marlina, L. 2003. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon pada Berbagai Konstruksi Ajir. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Midmore, D. J. 1983. The use of mulch for potato in the hot tropics. Circular II (1):1-2.

Natawigena, H. 1985. Pestisida dan kegunaannya. Armico, Bandung.

Nawangsih dan Asih A. 2003. Cabai Hot Beauty. Penebar Swadaya. Jakarta

Nurmawati, S., I. Winarni, dan A. Waskito.  2001. Penggunaan mulsa jerami, alang-alang, dan plastic hitam perak pada tanaman semangka tanpa biji.  Jurnal Penelitian Matematika, Sains, dan Teknologi. 2:36-41.

PT. Matahari Seed Indonesia.2011. Cabe Keriting Unggul Mario. CV. Aditya Sentana Agro. Karangploso Malang.

Purwowidodo. 1983. Teknologi Mulsa. Malang: Dewarucci Press.

Poespodarsono, S. 2000. Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman. Pusat Antar Universitas-IPB, Bogor. h. 82-95.

Priyambada, 2005. Pengaruh Pengolahan Tanah Latosol & Penggunaan Mulsa Alang-Alang Untuk Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L). Buletin Ilmiah Instiper Vol. 12 No. 12 november 2011, 17-25.

Sembiring .A., 2010. Pemanfaatan Mulsa Plastik Perak (MPHP) Dalam Budidaya Tanaman Cabai ( Capsicum annum L). Diakses 16 September 2011.

Setiadi. 2008. Jenis dan Budidaya Cabai Rawit. Penebar Swadaya. Jakarta

Setiadi. 2009. Jenis dan Budidaya Cabai Rawit. Penebar Swadaya. Jakarta

Setiadi. 2011. Bertananam Cabai di Lahan dan Pot. Penebar Swadaya. Jakarta.

Simbolon, HB. 2003. Peranan Pertanian Organik dalam Pertanian Berkelanjutan dan
Peluang Penerapannya di Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soetiarso, T.A. Ameriana, M. Prabaningrum, L. Sumarni, N. 2006.  Pertumbuhan, hasil, dan kelayakan finansial penggunaan mulsa dan pupuk buatan pada usahatani cabai merah di luar musim. Jurnal Hortikultura. 16(1): 63-76.
Soltani, N., J.L. Anderson and A.R. Hamson.  1985. Growth and analysis of watermelon plants grown with muches and row-covers. J.Amer. Soc. Hort. Sci.. 120:1001-1009.

Sudadi. 2003. Perakar Yang baik Untuk Tanaman C.abai. Bandung

Sunarjono, H. 1992. Budidaya Cabai Merah. Penerbit Sinar Baru, Bandung.

Sunaryono, Hendro. 1992. Budidaya Tanaman Cabe Merah. Sinar Baru Al Gesindo. Bandung, Hal : 27-28.

Sutedjo. 2006. Varietas cabai. Penebar Swadaya. Jakarta

Suwandi. 2009. Menakar Kebutuhan Unsur Hara Tanaman dalam Pengembangan Inovasi Budidaya Sayuran Berkelanjutan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. DKI Jakarta.

Syamsudin, 2007. Pengendalian Penyakit Terbawa Benih (Seed Born Diseases) pada Tanaman Cabai (Capsicum annum Liin) menggunakan agen biokontrol dan ekstrak Botani. Diakses dari http://www.indobiogen.or.id/terbitan/agrobio/abstrak/agrobio-vol-no2-1999-Dwinita.php. Pada Tanggal 10 maret 2007.
                            
Tindall, H.D. 1983. Vegetable in the Tropics. Mac Milan press Ltd, London.

Utomo.2007. Pengendalian Hama Penyakit Terpadu Pada Agribisnis Cabai. Penebar swadaya, Jakarta. Hal 98.

Vos, J.G.M., 1994. Pengolahan Tanaman Terpadu Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L) Dataran Rendah Tropic. Balai Penelitian Hortikultura Lembang.
Vos, J.G.M., Satrosiswijo, T.S. Uhan, and W. Setiawati. 1991. Thrips on hot pepper in Java. Indonesia. Proc. Reg. Consult. Workshop, Thrips in Southeast Asia, p:18-28.

Waggoner, P.E., P.M. Miller, and H.E. deRoo. 1960. Plastic mulching; Principles and benefits. Conn. Agr. Exp. Sta. Bul. 643. 44 pp.

Wan Afriani Barus.2006. Pertumbuhan dan Produksi Cabai (Capsicum annuum L.) dengan Penggunaan Mulsa dan Pemupukan PK. (diakses 24 Januari 2012).

Wyman, J.A., N.C. Toscano, K. Kido, H. Jhonson, and K.S. Mayberry. 1979. Effects of mulching on the soread of aphid-transmitted watermelon mosaic and virus to summer squash. J. Econ. Entomol. 72:139-143.
Yasin YY. 2009. Penggunaan Pupuk Daun dan Retardan Paelobutrazol terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum) dalam Polybag. Fakultas Pertanian Bogor. Bogor.

Yondri S. 2011. Syahrul Yondri: Penemu Cabai Jatilaba. (diakses 16 Januari 2012).

Yulimasni, A Tanjung dan K. Zen. 2003. Penggunaan Mulsa pada usaha tani cabai merah serta pengaruhnya terhadap serangan hama dan penyakit. Jurnal Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman (2): 64-67.

Zen K, Yulimasni dan I Manti. 2006. Penerapan Teknologi Budidaya Cabai Merah Spesifik Lokasi Dataran Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Hortikultura. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Sumatera Barat.

Zulkifli AK, A Yusuf, Amrizal, T Iskandar, M Adil, MN Ali, B Sulaeman, Roswita, A Azis, TM Fahrizal, Z Umar da T Djuanda. 2006. Rakitan Teknologi Budidaya Tanaman Cabai. diakses dari http://nad.litbang.deptan.go.id. (diakses 7 Maret 2013).


Komentar