Contoh Proposal Skripsi Pertanian




Induksi Kalus Durian (Durio Zibethinus Murr) Varietas Selat dengan Pemberian Pikloram dan Benzyl Amino Purin.
 


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
 Durian (Durio zibethinus Murr.) adalah nama tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara. Nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Sebutan populernya adalah “King of Fruit” (raja dari segala buah). Durian merupakan buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia dengan kisaran pasar yang luas dan beragam, mulai dari pasar tradisional hingga pasar modern, restoran, dan hotel. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas durian sangat potensial untuk diusahakan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Indonesia menghasilkan durian sebanyak 492.139 ton pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 883.969 ton pada tahun 2011 (BPS, 2012). Negara-negara seperti Taiwan, Singapura, Malaysia dan Hongkong merupakan pelanggan tetap durian dari Indonesia. Negara-negara lain seperti Australia, Belanda dan Jepang juga mulai mengimpor buah durian asal Indonesia. Permintaaan yang meningkat baik di dalam maupun luar negeri saat ini belum dapat dipenuhi oleh para petani atau pengusaha durian di Indonesia (Lakamisi, 2008). Upaya peningkatan produksi dan pengembangan durian di dalam negeri sebenarnya masih bisa dilakukan melalui perbaikan sistem produksi sehingga jumlah pasokan durian dengan mutu baik dapat ditingkatkan. Indonesia memiliki potensi produsen durian yang bagus, mengingat varietas durian dan agroklimat yang beragam sehingga durian dapat dihasilkan sepanjang tahun (Sobir dan Rodame, 2010).
            Provinsi Jambi mempunyai prospek yang sangat baik dalam pengembangan durian, mengingat iklim yang sesuai dengan sumber daya lahan yang masih cukup tersedia. Produksi durian untuk provinsi Jambi sendiri pada tahun 2010 mencapai 7.037 ton (BPS Provinsi Jambi, 2010) dan masih memiliki potensi yang sangat besar untuk ditingkatkan. Provinsi Jambi mempunyai varietas durian unggul lokal yaitu durian selat. Durian selat telah ditetapkan sebagai varietas unggul lokal berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Nomor : 492/kpts/SR. 120/12/2005 yang menetapkan bahwa durian selat sebagai varietas unggul kerena memiliki keunggulan daging buah tebal , berwarna kuning dengan struktur halus dan sedikit berserat serta rasa manis legit, dan memiliki biji yang kecil (Departemen Pertanian, 2006).
Di tempat asalnya durian varietas selat hanya terdapat satu pohon induk tunggal yang telah berumur cukup tua. Hal ini menjadi permasalahan karena pohon induk tunggal yang berumur cukup tua dapat terancam kelangsungannya apabila terjadi kerusakan ataupun kematian akibat faktor alam maupun faktor mahkluk hidup. Selain itu permasalahan lain adalah ketersediaan bibit tanaman durian varietas selat yang diperbanyak dengan metode konvensional masih terbatas. Metode konvensional yang diupayakan untuk perbanyakan bibit durian varietas selat yaitu melalui penyambungan (grafting). Namun kelemahan dari perbanyakan konvensional tersebut adalah ketersediaan biji untuk semaian batang bawah tergantung pada musim. Demikian juga untuk batang atas bahan sambungan sangat tergantung pada fase perkembangan tanaman induk durian varietas selat tersebut. kemudian Biji untuk bahan batang bawah bisa jadi membawa penyakit, sehingga bibit yang dihasilkan tidak bebas patogen. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu teknologi yang dapat menjamin penyediaan bibit sehat dan berkualitas sepanjang musim.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk penyediaan bibit durian selat adalah melalui teknik kultur jaringan. Kultur jaringan tanaman adalah suatu upaya mengisolasi bagian-bagian tanaman (protoplas, sel, jaringan, dan organ), kemudian mengkulturkannya pada nutrisi buatan yang steril di bawah kondisi lingkungan terkendali sehingga bagian-bagian tanaman tersebut dapat beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali (Zulkarnain, 2009). Perbanyakan secara kultur jaringan akan menawarkan peluang besar untuk menghasilkan jumlah bibit yang banyak dalam waktu relatif singkat. Selain itu kultur jaringan juga dapat mempertahankan sifat induk yang unggul dan dapat menghasilkan bibit yang bebas cendawan, bakteri, virus dan hama penyakit (Prihandana dan Hendroko, 2006). Teknik kultur jaringan memanfaatkan kemampuan totipotensi sel, yaitu kemampuan untuk membentuk tumbuhan baru yang sama dengan induknya dari bagian tumbuhan baik organ atau jaringan serta sel (Hartman et al., 1997).  Untuk penerapan teknik kultur jaringan durian akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan tanam, penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik, dan pengaturan lingkungan yang baik (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
Dalam kultur jaringan tahap pertama yang perlu dilakukan yaitu menginduksi kalus dari eksplan.  Pembentukan dan pertumbuhan kalus dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah  komposisi media tumbuh. Pertumbuhan dan perkembangan eksplan dipengaruhi oleh komposisi media yang digunakan. Ada beberapa macam media tumbuh dalam pelaksanaan kultur jaringan namun untuk tanaman yang berkayu umumnya digunakan adalah media Woody Plant Medium (WPM).
Gunawan (1992) menyatakan bahwa media WPM yang dikembangkan oleh Llyod dan Mc Cown pada tahun 1981, merupakan media dengan konsentrasi ion yang rendah pada jaman sesudah penemuan media Murishage and Skoog (MS). Media ini konsisten dengan media untuk tanaman berkayu yang dikembangkan oleh ahli lain, tetapi sulfat yang digunakan lebih tinggi dari sulfat pada media tanaman berkayu lain. Media tumbuh sangat menentukan perkembangan dari eksplan yang dikembang biakkan pada kultur jaringan sehingga eksplan tersebut dapat tumbuh dan berkembang.
Gunawan (1995) menyatakan bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai eksplan adalah pucuk muda, batang muda, daun muda, kotiledon, dan hipokotil. Eksplan tanaman yang masih muda menghasilkan tunas maupun akar adventif lebih cepat bila dibandingkan dengan bagian yang tua. Bagian tanaman yang digunakan dalam induksi kalus durian berasal dari daun muda, karena bagian ini termasuk jaringan meristem tanaman. Selain itu, selnya masih aktif membelah dan terdapat banyak sel, yang masing- masing bagian sel tersebut dapat berproliferasi membentuk kalus.
Pembentukan dan pertumbuhan kalus selain dipengaruhi oleh media kultur yang digunakan juga dapat dipacu dengan pemberian zat pengatur tumbuh, baik auksin maupun dikombinasikan dengan sitokinin. Pemakaian kedua jenis zat pengatur tumbuh dalam konsentrasi tepat dapat mengatur arah dan kecepatan pertumbuhan jaringan. Pembentukan kalus dan organ-organ ditentukan oleh penggunaan zat pengatur tumbuh tersebut. Salah satu zat pengatur tumbuh golongan auksin yang digunakan dalam kultur jaringan tanaman adalah pikloram (4-Amino-3,5,6,-Trichloro Picolinic Acid). Sedangkan zat pengatur tumbuh dari golongan sitokinin yang sering digunakan adalah Benzyl Amino Purin  (BAP).
            Pada penelitian yang dilakukan oleh Karsinah et al., (1995), eksplan kotiledon durian yang ditanam pada media dengan 0,1-0,5 ppm 2,4-D dan 0,5-2,0 ppm BAP menghasilkan pertumbuhan kalus 81-97 %, dengan struktur kalus yang padat dan berwarna hijau-kuning. Sedangkan menurut Namhomchan (1999), konsentrasi BAP 1 mgL-1 membuat tunas lateral durian berkembang secara in vitro tetapi tidak sampai pada tahap planlet. Kalus juga dapat dihasilkan dari daun muda durian yang ditanam pada media WPM dengan 0,5 mgL-1 2,4-D dan 0,1 mgL-1 BAP.
Hasil penelitian Satria (1996), menunjukkan media WPM yang diperkaya dengan arang aktif 2,0 gL-1 dan komposisi konsentrasi 1,75 ppm BAP + 0,50 ppm NAA dapat memacu pertumbuhan kalus, dan tunas terbaik pada kultur epikotil manggis, sedangkan pada ku1tur koti1edon manggis dengan penambahan komposisi media yang sama dapat memacu pertumbuhan plantlet dengan jumlah daun 5-9 helai. Selanjutnya hasil penelitian Satria et al. (1997) menunjukkan komposisi media WPM + 1,75 ppm BAP + 0,50 ppm NAA dengan bahan eksplan hipokotil terbaik untuk inisiasi dan proliferasi kalus. Hasil penelitian Muchtar (1996) menunjukkan bahwa pembentukan embrio somatik pada rotan manau yang maksimum terjadi pada auksin pikloram pada perlakuan 2 ppm (8.29 μM), kultur yang dikombinasikan dengan 2,4-D sampai 4 ppm tidak membentuk embrio baik dikombinasikan dengan BAP maupun kinetin. Pliergo-Alfaro dan Murashige dalam Romero et al. (2005) melaporkan bahwa media yang mampu menginduksi kultur embriogenik dari embrio zigotik muda alpukat adalah media yang mengandung 0.1 mgL-1 (0.41 μM) pikloram.
Hasil dari penelitian yang dilakukan Lim Xiong Zi et al. (2009) menyatakan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) picloram 3 mgL-1 yang dikombinasikan  dengan BAP 0,5 mgL-1 , 1,0 mgL-1 , 1,5 mgL-1 , 2,0 mgL-1  pada media MS , 100% dari eksplan daun Ocimum sanctum  yang diinduksi membentuk kalus setelah 7,0 ± 0 hari. Kalus yang terbentuk berstruktur kompak, ringan dan  berwarna hijau.
Berdasarkan uraian serta sejumlah hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan pengaruh zat pengatur tumbuh pikloram dan BAP terhadap kultur jaringan tanaman, penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul Induksi Kalus Durian (Durio Zibethinus Murr) Varietas Selat dengan Pemberian Pikloram dan Benzyl Amino Purin.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui pengaruh pemberian pikloram dan BAP terhadap induksi kalus dari eksplan daun durian varietas selat.
2.      Mendapatkan konsentrasi pemberian pikloram dan BAP terbaik yang menginduksi kalus dari eksplan daun durian varietas selat.

1.3 Kegunaan
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai teknologi alternatif dalam perbanyakan tanaman durian varietas selat secara kultur jaringan serta dapat dijadikan sumber informasi bagi pihak yang memerlukan.

1.4 Hipotesis
1.      Berbagai konsentrasi pemberian pikloram dan BAP memberikan pengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan kalus durian varietas selat.
2.      Terdapat konsentrasi pemberian pikloram dan BAP yang terbaik dalam menginduksi kalus durian selat.










II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Durian Varietas Selat
            Durian varietas selat merupakan salah satu varietas lokal yang berasal dari provinsi Jambi dan telah ditetapkan sebagai varietas unggul lokal berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Nomor : 492/kpts/SR. 120/12/2005. Saat ini durian selat mendapatkan perhatian penuh dari Pemerintah Provinsi Jambi. Hal ini terlihat dari program Provinsi Jambi 2010-2014 di bidang pertanian khususnya hortikultura, yang mencanangkan pengembangan 1.000.000 pohon tanaman buah-buahan termasuk durian sebagai tanaman buah unggul lokal.
Durian selat mempunyai karakteristik yaitu tinggi tanaman mencapai 18 m, dengan lebar tajuk antara 9 - 12 m, bentuk tanaman menyerupai payung, warna batang berwarna kecoklatan dan bertekstur batang kasar dan juga bentuk batang yang silindris.
              Bentuk daun durian selat adalah lonjong sempit dengan panjang daun antara 14 – 16 cm serta lebar 4 – 5 cm. tepi daun rata, ujung daun lancip, pangkal daun tumpul, permukaan daun mengkilap, warna daun bagian atas hijau tua, warna daun bagian bawah kecoklatan, panjang tangkai daun 2,0 – 2,5 cm. kedudukan daun menghadap ke atas.
              Bentuk bunga seperti mangkok, warna mahkota bunga putih, warna benang sari krem kekuningan, warna kelopak bunga krem kehijauan, jumlah bunga pertandan mencapai 10 – 12 bunga. jumlah buah pertandan 2 buah, bentuk buah bulat, beralur, dan tidak beraturan. Ukuran buah tingginya 30 – 33 cm, diameter 20 – 25 cm. dengan berat buah mampu mencapai 3,5 – 4,1 kg sifat buah tidak mudah pecah, panjang tangkai buah 3 - 7 cm, warna kulit buah masak yaitu hijau sampai ke abu-abuan.
              Warna daging buah sangat menarik yaitu kuning, jika terlalu masak berwarna krem, keadaan daging buah sedang – kering, tekstur daging buah halus sedikit berserat, dengan tebal daging buah 1,3 – 1,5 cm. Aroma daging buah sedang (tidak tajam), dan rasa daging buah manis legit selain itu bentuk biji lonjong agak kecil.
Varietas tergolong varietas unggul kerena memiliki keunggulan daging buah tebal , berwarna kuning dengan struktur halus dan sedikit berserat serta rasa manis legit, dan memiliki biji yang kecil (Departemen Pertanian, 2006).

2.2 Perbanyakan Tanaman Melalui Teknik Kultur Jaringan
            Kultur jaringan tanaman adalah suatu upaya mengisolasi bagian-bagian tanaman (protoplas, sel, jaringan, dan organ), kemudian mengkulturkannya pada nutrisi buatan yang steril dibawah kondisi lingkungan terkendali sehingga bagian-bagian tanaman tersebut dapat beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali (Zulkarnain, 2009). Pernyataan tersebut didukung oleh Evans et al., (2003) yang menyatakan bahwa kultur jaringan adalah penanaman sel, jaringan dan organ tanaman pada kondisi aseptik dengan lingkungan yang terkontrol.
Acquach (2004) menjelaskan teknik kultur jaringan didasarkan pada konsep totipotensi (sel mempunyai gen yang mampu membangun sel itu sendiri menjadi organisme lengkap secara langsung). Menurut Evans et al., (2003), totipotensi artinya sel-sel tanaman dapat diinduksi melalui kondisi kultur yang cocok untuk berkembang sejalan dengan program yang dilakukan untuk membentuk tanaman lengkap.
              Aplikasi kultur jaringan pada awalnya ialah untuk propagasi tanaman. Selanjutnya penggunaan kultur jaringan lebih berkembang lagi yaitu untuk menghasilkan tanaman yang bebas penyakit, koleksi plasma nutfah, memperbaiki sifat genetik tanaman, produksi, dan ekstraksi zat-zat kimia yang bermanfaat dari sel-sel yang dikulturkan (George et al., 2008).
              Perbanyakan tanaman secara kultur jaringan menawarkan peluang besar untuk menghasilkan jumlah bibit tanaman yang banyak dalam waktu relatif singkat sehingga lebih ekonomis. Teknik kultur jaringan ini dapat dilakukan sepanjang waktu tanpa tergantung musim. Selain itu, perbanyakan tanaman menggunakan teknik in vitro mampu mengatasi kebutuhan bibit dalam jumlah besar, serentak, dan bebas penyakit sehingga bibit yang dihasilkan lebih sehat serta seragam. Oleh sebab itu, kini perbanyakan tanaman secara kultur jaringan merupakan teknik alternatif yang tidak dapat dihindari bila penyediaan bibit tanaman harus dilakukan dalam skala besar dan dalam waktu relatif singkat (Hambali et al.,  2006).

2.3 Peranan Auksin dan Sitokinin dalam Induksi Kalus
              Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan. Zat pengatur tumbuh dapat dibagi menjadi beberapa golongan yaitu golongan auksin, sitokinin, giberelin, dan inhibitor. Zat pengatur tumbuh yang tergolong auksin adalah Indol Asam Asetat (IAA), Indol Asam Butirat (IBA), dan 2,4 Dikhlorofenoksiasetat (2,4D). Zat pengatur tumbuh yang termasuk golongan sitokinin adalah kinetin, zeatin, ribosil, dan benzil Amino Purin (BAP). Sedangkan golongan giberelin adalah GA1, GA2, GA3, GA4, dan golongan inhibitor adalah fenolik dan asam absisik (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
              Menurut Wetherell (1982) bahwa zat-zat pengatur tumbuh tersebut untuk setiap spesies dan bagian-bagian tanaman sangat berbeda-beda, juga tergantung dari tujuan masing-masing tahap dalam propagasi. Wiendi et al., (1991) Melaporkan bahwa dalam aplikasinya di dalam kultur jaringan tanaman, taraf konsentrasi disesuaikan dengan tipe organ atau eksplan, metode kultur jaringan, dan tingkat kultur jaringan (pembuatan kalus, induksi tunas, induksi akar dan lain-lain).
              Auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi terjadinya kalus, mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas, mendorong proses embryogenesis, dan dapat mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman (Santoso dan Nursanti, 2003).
Catala et al (2000), menyatakan bahwa adanya induksi auksin dapat mengaktivasi pompa proton (ion H+) yang terletak pada membran plasma sehingga menyebabkan pH pada bagian dinding sel lebih rendah dari biasanya, yaitu mendekati pH pada membran plasma (sekitar pH 4,5 dari normal pH 7). Aktifnya pompa proton tersebut dapat memutuskan ikatan hidrogen diantara serat selulosa dinding sel. Putusnya ikatan hidrogen menyebabkan dinding mudah merenggang sehingga tekanan dinding sel akan menurun dan dengan demikian terjadilah pelenturan sel, pH rendah juga dapat mengaktivasi enzim tertentu pada dinding sel yang dapat mendegradasi bermacam-macam protein atau konstituen polisakarida yang menyebar pada dinding sel yang lunak dan lentur, sehingga pemanjangan dan pembesaran sel dapat terjadi. Setelah pemanjangan dan pembesaran sel ini,  sel terus tumbuh dengan mensintesis kembali material dinding sel dan sitoplasma.
Menurut Wattimena (1998), auksin alamiah yang sering terdapat pada tumbuhan adalah IAA (Asam 3-indol asetat). IAA disintesis dari triptopan pada bagian primordial daun, daun muda dan biji yang sedang berkembang. Sedangkan auksin sintetik yang sering digunakan adalah asam 2,4-D, NAA (Asam α-Naftalen Asetat) dan IBA (Asam 3-Indol Butirat) serta pikloram (4-Amino-3,5,6,-Trichloro Picolinic Acid) .
              Pikloram (4-Amino-3,5,6,-Trichloro Picolinic Acid) merupakan jenis auksin dari asam pikolinik yang juga diketahui sebagai herbisida yang kuat (Moore, 1979). Pikloram merupakan jenis auksin yang jarang digunakan pada kultur jaringan dibandingkan jenis auksin lain namun juga merupakan senyawa efektif yang memberikan efek pengkalusan lebih kuat dibandingkan 2,4-D pada embrio somatik tanaman seledri (Agustina, 1997). Hal ini dikarenakan dari semua jenis auksin sintetik hanya pikloram yang memiliki gugus amino pada ikatan kimianya (Moree, 1979). Gugus amino tersebut dapat dilihat pada rumus bangun kimia pikloram yang ditampilkan pada gambar 1. Jarangnya Pikloram digunakan dalam kultur jaringan salah satunya dikarenakan harga yang relatif lebih mahal.
Gambar 1. Rumus bangun  Pikloram             
Riyantini (2010) melakukan penelitian pada kultur kotiledon tanaman jarak pagar dan mendapatkan hasil bahwa pemberian 3 mgL-1 Pikloram pada media WPM plus menghasilkan kalus terbaik. Selain itu hasil penelitian Purba (2009) menunjukkan pada kultur  eksplan biji buah manggis muda pada kombinasi media WPM + pikloram 1.0 μM, media B5 + pikloram 0.5 μM, dan media B5 + pikloram 1.0 μM membentuk embrio somatik dengan persentase yang sama yaitu 6.25 %. Konsentrasi pikloram 1.0 μM menghasilkan embrio somatik tertinggi sebesar 4.17 %. Media B5 membentuk embrio somatik tertinggi sebesar 3.13 %. Penelitian ini menunjukkan bahwa pikloram berpengaruh terhadap pengkalusan eksplan tanaman pada teknik kultur jaringan.
              Sitokinin adalah senyawa yang dapat meningkatkan pembelahan sel pada jaringan tanaman serta mengatur pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sama halnya dengan kinetin (6-furfurylaminopurine) (Zulkarnain, 2009). Peranan sitokinin dalam tumbuhan adalah sebagai berikut : mengatur pembelahan sel, pembentukan organ, pencegahan kerusakan klorofil, pembentukan kloroplas, penundaan senescens, pembukaan dan penutupan stomata, serta perkembangan mata tunas dan pucuk. Wattimena et al., (1992) menjelaskan bahwa ZPT dari golongan sitokinin sangat berperan di dalam kultur jaringan antara lain berhubungan dengan proses pembelahan sel, proliferasi tunas, dan induksi organ. Sitokinin yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah BAP (Benzil Amino Purin) dan kinetin. Menurut George et al. (2008) 6-Benzilaminopurin (BAP) merupakan salah satu sitokinin sintetik yang aktif dan daya merangsangnya lebih lama karena tidak mudah dirombak oleh enzim dalam tanaman.  Dalam penelitian Abidin (2003) pada tanaman gaharu menggunakan kombinasi ZPT 2,4-D 0,1 mgL-1 dan BAP 1,2 mgL-1 mampu menghasilkan jumlah pembentukan kalus yang terbanyak. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada konsentrasi tersebut mampu membentuk kalus dan dapat disimpulkan bahwa pengaruh ZPT 2,4-D 0,1 mgL-1 dan BAP 1,2 mgL-1 dapat memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan jumlah kalus, bobot kalus, dan persentase keberhasilan kalus.
              Wulandari (2004) menyatakan interaksi antara hormon auksin dan sitokinin sangat mempengaruhi pertumbuhan morfogenesis dalam kultur sel, kultur jaringan dan organ. Konsentrasi kedua zat pengatur tumbuh ini sering mengendalikan bentuk dan jumlah pertumbuhan suatu kultur, baik pertumbuhan kalus atau organogenesis. Dalam kultur jaringan, sitokinin berpengaruh terutama pada pembelahan sel. Bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap diferensiasi jaringan. Pada pemberian auksin dengan kadar yang relatif tinggi, diferensiasi kalus cenderung ke arah pembentukan primordia akar. Sedangkan pemberian sitokinin dengan kadar yang relatif tinggi, diferensiasi kalus akan cenderung ke arah pembentukan primordia batang atau tunas (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
  
III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini di laksanakan di laboratorium Bioteknologi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi, mulai dari bulan April sampai dengan bulan Agustus 2013.

3.2 Bahan dan Alat
           Bahan tanaman yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah daun durian varietas selat yang muda yang terdapat di lapangan yang berumur sekitar 6 bulan dalam pembibitan. Media tanam yang digunakan adalah media WPM. Komposisi media telah terlampir pada lampiran I. Sedangkan zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah 4-Amino-3,5,6,-Trichloro Picolinic Acid (Pikloram) dan Benzyl Amino Purin (BAP) yang konsentrasinya sesuai dengan perlakuan. Bahan pemadat digunakan agar powder 7 grL-1, sukrosa 30 grL-1, Aquades steril sebagai pelarut, KOH 1N, HCl 1N, sabun cair, agryept, benlock, spiritus, dan alkohol 70% serta alkohol 96%.
Alat-alat yang digunakan yaitu Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), lemari pendingin, autoklaf, hot plat, pH meter, magnetic stirrer, neraca biasa, neraca analitik, gelas piala, gelas ukur, tisu, batang pengaduk, botol kultur, plastik wrap, karet gelang, petridis, lampu bunsen, korek api, kertas label, hand sprayer, gunting, pinset, lampu, rak kultur, kamera dan alat-alat tulis.

3.3 Rancangan Percobaan
Penelitian ini akan dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 15 perlakuan, yaitu : 
p1b1 = WPM + 1 ppm Pikloram +    0 ppm BAP
p1b2 = WPM + 1 ppm Pikloram + 0,5 ppm BAP
p1b3 = WPM + 1 ppm Pikloram +    1 ppm BAP
p2b1 = WPM + 2 ppm Pikloram +    0 ppm BAP
p2b2 = WPM + 2 ppm Pikloram + 0,5 ppm BAP
p2b3 = WPM + 2 ppm Pikloram +    1 ppm BAP
p3b1 = WPM + 3 ppm Pikloram +    0 ppm BAP
p3b2 = WPM + 3 ppm Pikloram + 0,5 ppm BAP
p3b3 = WPM + 3 ppm Pikloram +    1 ppm BAP
p4b1 = WPM + 4 ppm Pikloram +    0 ppm BAP
p4b2 = WPM + 4 ppm Pikloram + 0,5 ppm BAP
p2b3 = WPM + 4 ppm Pikloram +    1 ppm BAP
p5b1 = WPM + 5 ppm Pikloram +    0 ppm BAP
p5b2 = WPM + 5 ppm Pikloram + 0,5 ppm BAP
p5b3 = WPM + 5 ppm Pikloram +    1 ppm BAP

Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali , sehingga dihasilkan 60 satuan percobaan. Pada masing-masing satuan percobaan terdiri dari 2 botol kultur sehingga terdapat 120 botol kultur. Tiap botol kultur masing-masing ditanam 2 eksplan dan semua populasi diamati.

3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Sterilisasi Alat
Untuk mencegah terjadinya kontaminasi, sebelum penelitian dimulai semua alat yang akan digunakan seperti petridis, pinset, gunting, botol kultur, gelas ukur dan peralatan lainnya dicuci bersih menggunakan sabun cair dan dibilas dengan air sampai bersih. Alat-alat selain botol kultur dibungkus dengan kertas sebelum dimasukkan ke dalam autoklaf.  kemudian disterilkan dalam autoklaf pada tekanan 17,5 pounds per square inch (psi) dengan suhu 1210 C selama 20 menit. LAFC disemprot dengan alkohol 70% setiap kali digunakan dan kemudian sterilisasi dengan menyalakan lampu UV 1 jam sebelum penanaman.

3.4.2 Pembuatan Media
Media yang digunakan untuk media tanam adalah media WPM dengan kombinasi ZPT (Pikloram dan BAP). Zat kimia yang digunakan pada media ini terlampir pada lampiran 1. Untuk memudahkan membuat media , maka terlebih dahulu disiapkan larutan stok berdasarkan gramnya dari zat kimia penyusun media tersebut berupa stok A, B,C, D, E, F, dan vitamin. Larutan stok tersebut dipekatkan masing-masing sesuai dengan takaran yang dibutuhkan. Semua  masing-masing larutan dipipet dimasukkan ke dalam gelas piala ukuran 250 mL sejumlah volume tertentu sesuai takaran yang diperlukan untuk pembuatan media. Larutan stok zat pengatur tumbuh pikloram dan BAP dibuat dengan konsentrasi 100 ppm. Pembuatan larutan stok pikloram menggunakan alkohol sebagai pelarut awal. Selanjutnya ditambahkan aquades sesuai volume yang diinginkan. Larutan stok disimpan dalam lemari es.
Langkah pertama dalam membuat media adalah : pipet larutan stok zat kimia unsur hara (A sampai F), serta vitamin sesuai takaran, setelah seluruh larutan stok zat kimia dimasukkan ke dalam gelas piala, kemudian dimasukkan pula sukrosa dan agar kedalamnya dan tambahkan dengan aquades hingga volume tepat 500 mL setelah itu panaskan menggunakan hotplate sambil diaduk dengan magnetic stirrer. pemanasan dihentikan bila larutan media  telah mendidih. Media tesebut dibagi dalam gelas piala 100 ml. Lalu pipet larutan stok ZPT Pikloram dan BAP sesuai perlakuan, ukur pH media sampai 5,6 – 5,8 dengan menggunakan beberapa tetes KOH 1%  jika pH kurang dari 5,6 dan dengan HCl 1%  jika pH lebih dari 5,8. Media tersebut dituangkan ke dalam botol kultur, kemudian ditutup dengan plastik wrap tahan panas dan diikat dengan karet gelang dan beri label sesuai dengan perlakuan. Kemudian media disterilkan dengan autoklaf pada suhu 1210 C dengan tekanan 17,5 psi selama 15 menit.

3.4.3 Sumber Eksplan
Daun durian yang dijadikan sebagai eksplan  adalah daun muda kedua dari pucuk yang berumur sekitar 4 minggu setelah munculnya daun, kondisi daun sudah terbuka, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Eksplan daun durian tersebut diambil dari bibit yang berasal dari biji pohon induk durian varietas selat yang terdapat di Desa Simpang Selat Kabupaten Muaro Jambi. Bibit tersebut telah dipindahkan ke dalam polibag dan berumur ± 6 bulan.

3.4.4 Persiapan dan Penanaman Eksplan
Penanaman eksplan dilakukan di Laminar Air Flow Cabinet (LAFC) yang telah disterilkan dengan sinar ultraviolet selama minimal 1 jam dan disemprot dengan alkohol 70%. Semua alat dan bahan yang dimasukkan ke dalam LAFC disemprot dengan alkohol 70%.
Daun muda durian selat yang akan dijadikan eksplan dicuci bersih dengan sabun cair dan bilas dengan air yang mengalir, kemudian rendam ke dalam agryept dan benlock masing-masing 5 gram yang dilarutkan ke dalam air steril 100 ml. Perendaman dilakukan selama 3-4 jam. Kemudian pembilasan dilakukan di dalam LAFC sebanyak 3 kali, selanjutnya sterilisasi dengan alkohol 70% selama 5 detik setelah itu bilas dengan air steril dan masukkan ke dalam petridis yang kemudian potong dengan ukuran 1 cm x 1 cm.
Kegiatan penanaman dilakukan di dalam LAFC yang sebelumnya telah disterilkan. Botol kultur, petridis, lampu spirtus, dan alat tanam yang telah disterilkan sebelum dimasukkan disemprot terlebih dahulu dengan alkohol 70 %. Kegiatan penanaman dilakukan sebagai berikut : semua alat-alat yang digunakan seperti pinset dan gunting direndam dalam alkohol 95% agar tetap steril kemudian bakar dengan lampu spritus. Eksplan daun yang telah disterilisasi selanjutnya dipotong-potong  dengan ukuran 1 cm x 1 cm dengan menggunakan gunting, sebelumnya bagian tepi dan tangkai daun dibuang. Kemudian eksplan durian tersebut ditanam ke dalam botol kultur yag berisi media dan perlakuannya masing-masing. Setiap botol kultur ditanam 2 eksplan. Usahakan saat menanam, mulut botol kultur berada dekat dengan  api bunsen. Kemudian tutup botol dengan plastik wrap tahan panas,ikat dengan karet gelang. Selanjutnya botol dipindahkan ke ruang inkubasi dan disusun di rak kultur sesuai berdasarkan dengan penempatan perlakuan.

3.4.5 Pemeliharaan   
Pemeliharaan dilakukan untuk tujuan agar eksplan terhindar dari kontaminasi. Pemeliharaan meliputi menjaga kebersihan ,pemisahan eksplan  atau media yang telah terkontaminasi oleh mikroorganisme dari ruang inkubasi. Selain itu dilakukan penyemprotan lokasi percobaan dan botol-botol eksplan yang dilakukan setiap hari dengan alkohol 70%.


3.5 Variabel yang Diamati
3.5.1 Waktu Muncul Kalus
Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati eksplan setiap hari sampai terbentuknya kalus.

3.5.2 Persentase Eksplan yang Membentuk Kalus
Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian, yaitu dengan menghitung jumlah eksplan yang membentuk kalus dibagi  dengan jumlah keseluruhan eksplan yang dikulturkan dengan rumus :

            S eksplan berkalus (%)  =  S eksplan membentuk kalus              x 100%
       S seluruh eksplan yang dikulturkan

3.5.3 Struktur Kalus
Pengamatan dilakukan pada setiap eksplan yang membentuk kalus. Dari kalus yang terbentuk dilihat struktur kalus yang terbentuk. Struktur kalus dibedakan menjadi dua yaitu struktur kompak (permukaan kalus mengkilap dan seluruh permukaan rata) dan struktur remah (permukaan kalus tidak mengkilap dan bergelombang). Pengamatan dilakukan setiap 1 kali seminggu hingga penelitian selesai.

3.5.4 Warna Kalus
Pengamatan dilakukan pada eksplan yang membentuk kalus. Setiap kalus yang terbentuk diamati warna kalus yang terbentuk seperti putih,hijau, krem, coklat muda. Pengamatan dilakukan setiap 1 kali seminggu hingga penelitian selesai.

3.6 Analisis Data
Untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap variabel yang diamati, data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif.



Komentar