Stek




II. STEK
Standar kompetensi : Memahami semua aspek  stek  pada tanaman.
Kompetensi dasar    : Dapat mendeskripsikan peranan anatomi dan  fisiologi dari setiap bagian tanaman yang distek dalam proses pembentukan akar dan daun.
Mengidentifikasi  dan mendeskripsikan macam-macam stek  pada tanaman dan teknik penyetekan
Indikator Hasil Pembelajaran.
dapat  menjelaskan apa itu stek
dapat menjelaskan  aspek anatomi  stek   dalam  pembentukan akar  dan daun .
dapat menjelaskan proses fisiologi stek  dalam pembentukan akar  dan daun .
dapat menyebutkan macam-macam stek  dan dapat menguasai teknis  penyetekan.
2.1. Pendahuluan
Perbanyakan secara vegetatif adalah cara perkembangbiakan tanaman dengan   menggunakan bagian-bagian tanaman seperti  batang, cabang, ranting, pucuk,  daun, umbi  dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus.
Keunggulan perbanyakan ini adalah menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah.
Kelemahan dari perbanyakan dengan cara ini membutuhkan pohon induk yang lebih besar dan lebih banyak, sehingga membutuhkan biaya yang banyak.  Selain hal tersebut juga  tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek, dan tingkat keberhasilannya sangat rendah, terlebih jika dilakukan oleh hobiss atau penangkar pemula.
Perbanyakan dengan stek pada umumnya dilakukan pada tanaman dikotil, pada monokotil masih jarang , namun pada beberapa tanaman seperti asparagus dalam kondisi terkontrol dapat dilakukan.
Perbanyakan tanaman dengan stek meliputi stek batang, stek bertunas daun, stek daun, stek akar, stek mata, stek umbi ( meliputi umbi lapis, umbi palsu, umbi batang, umbi akar dan akar batang).
Stek berasal dari kata stuk ( bahasa Belanda) dan cuttage ( Bahasa Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan tanaman induk kedalam media, agar tumbuh menjadi tanaman baru.
Perbanyakan dengan stek mudah dilakukan karena tidak memerlukan peralatan khusus dan teknis pelaksanaan tidak rumit. Keunggulan teknik ini adalah dapat meng hasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanaman yang tersedia sangat sedikit atau terbatas.  Namun  pada kenyataannya tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan stek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari induknya saja yang dapat diperbanyak dengan teknik ini, misalnya anggur, kedondong, sukun , jambu air dsb.
Kelemahan baik secara fisisologis maupun  morfologis adalah hasil perbanyakan dengan cara ini memiliki akar serabut sehingga   mudah roboh pada keadaan iklim kurang mendukung ( ekstrim) misalnya angin yang kencang, tanah selalu jenuh air, dsb.  Hal ini disebabkan  karena   hasil perbanyakan tanaman yang ditanam dengan stek  perakarannya dangkal..
2.2. Aspek Anatomi Stek.
Pengetahuan struktur internal dari batang perlu untuk  memahami proses terbentuknya akar adventif.
Proses pembentukan akar adventif dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu:
§  Differensiasi seluler yang diikuti oleh inisiasi, yaitu permulaan pertumbuhan dari sekelompok sel-sel merismatik, keadaan ini biasanya disebut inisiasi akar,
§  Differensiasi dari kelompok sel-sel tersebut  diatas, menjadi primodia akar ( bakal akar) yang dapat dilihat ( recognizeable root primordia).
§  Pertumbuhan dan pemunculan akar-akar baru yang meliputi pelebaran dari jaringan lain dari batang, dan pembentukan  hubungan vaskular dengan jaringan penghubung  yang menghubungkan  bagian yang terluka pada batang yang  distek dengan jaringan vaskular.
Dimana akar mula-mula terbentuk adalah pertanyaan yang sangat menarik dan  hal inilah yang merangsang banyak peneliti untuk meneliti asal mula keluarnya akar pada berbagai tanaman.
Lokasi tepat dimana akar mula-mula terbentuk menurut Langster dan Willey           ( 1982), adalah pada batang yang mengalami pelukaan. Artinya dimana ada pelukaan akan merangsang atau menginduksi akar, yang biasanya didahului atau bersamaan dengan pembentukan kalus tergantung pada jenis tanamannya. Menurut Barney ( 1987), pada kebanyakan tanaman hortikultura buah-buahan biasanya kalus terbentuk dahulu baru diikuti oleh adventious root.
Menurut Winners ( 1975), akar adventif adalah akar yang muncul karena adanya pelukaan, akar ini pada stek batang berasal dari sekelompok sel yang yang berbeda-beda untuk setiap jenis tanaman, kelompok sel inilah yang  kemudian berkembang menjadi sel merismatik.
Pada tanaman tomat dan labu, asal akar adventif adalah didalam parenkhim floem. Sedangkan untuk tanaman   rumput-rumputan  dan kebanyakan familia Graminae asal akar adventif pada stek batang berasal dari adanya pembelahan dari sekelompok sel-sel yang kecil yang berada diantara berkas pembuluh vaskular. Sekelompok sel-sel tersebut terus membelah,  dan akhirnya membentuk primordia akar.  Setelah primordia akar terbentuk,  pembelahan sel terus berlanjut, dan selanjutnya sel tersebut menjadi kelompok sel yang tampak sebagai ujung akar ( root tip) .
Untuk tanaman berkayu, dimana terdapat satu atau lebih lapisan dari floem dan xylem sekunder, asal akar adventif biasanya dari floem sekunder muda.
Waktu untuk keluarnya akar adventif sangat bervariasi tergantung dari banyak faktor yaitu faktor endogenous, eksogenous dan   interaksi dengan lingkungan.
Gambar 2.1.   Fokus dari Gambar
Gambar 2.2     Perkembangan akar muda menjadi akar dewasa.
Gambar 2.3. Struktur anatomi batang tanaman monokotil(jagung) dan dikotil (bunga
matahari)
Gambar 2.4. Struktur anatomi akar tanaman monokotil dan dikotil.
Gambar 2.5. Perkembangan akar muda menjadi akar dewasa.
Beberapa penelitian pada tanaman hias,  menunjukkan bahwa akar akan muncul sekitar 7 sampai 10 hari misalnya pada mawar, soka, kenanga , melati, sedangkan pada aglaonema  dan beberapa varietas diffenbachia yang diberi perlakuan rootone-F sekitar 14-21 hari ( Deviani, 2005).
Penelitian pada stek jambu air varitas Citra yang diberi NAA,  tampak  waktu pengakaran  menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dengan yang tidak diberi NAA.   Akar akan muncul sekitar 3 minggu pada tanaman yang diaplikasi NAA. Tanaman yang diaplikasi NAA juga lebih banyak mempunyai tunas dibanding dengan yang kontrol. ( Deviani, 2005).
Penelitian pada mawar juga memberikan respon yang sama dengan yang dijelaskan terdahulu. Stek mawar yang diaplikasi dengan IBA, menunjukkan persentase pertunasan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.  Pertumbuhan tanaman  terutama jumlah daun lebih seragam. ( Deviani, 2005).
Inisiasi akar berasal dari parenkim jaringan floem. Pada saat akar adventif terbentuk dan mengalami perkembangan yang pesat, biasanya sumber pati diambil dari jaringan sekitarnya yaitu endodermis, jari-jari floem dan xylem, empulur dan disekitar daerah primodia akar. ( Hartman dan Kester, 1976).
Pada kebanyakan tanaman, inisiasi dan akar adventif terjadi setelah stek dibuat, hal ini disebut dengan akar yang diinduksi, induced root atau akar yang muncul karena pelukaan. Sebagai contoh adalah pengeratan ( girdling) batang atau pada pencangkokan   ( air layering).  Akar adventif pada stek batang berasal dari sekelompok sel  tertentu yang menjadi sekelompok sel merismatik. Jaringan yang terlibat pada tempat asal sangat bervariasi, tergantung pada species tanaman, keadaan induk tanaman sebelum penyetekan dan faktor lingkungan. ( Baker, 1979).
Selanjutnya menurut Baker ( 1979),   faktor lingkungan yang sangat kondusif untuk merangsang keluarnya akar adventif adalah  air, irradiasi dan suhu, ketiganya saling berhubungan  dan berinteraksi dalam menentukan   keluarnya akar adventif.
Pada beberapa jenis tanaman, inisiasi akar adventif terbentuk selama fase-fase awal perkembangan   pada tanaman utuh, sehingga telah ada pada saat stek dibuat. Setelah stek batang dibuat dan ditempatkan pada tempat yang cocok bagi pembentukan akar, kalus akan terbentuk pada bagian ujung bawah dari stek tersebut. Kalus adalah massa yang tidak berbentuk  yang mengalami ligninfikasi dan terdiri  dari sel-sel parenkim pada berbagai tingkatan lignifikasi.
Pertumbuhan sel kalus berasal dari sel-sel muda pada daerah kambium pembuluh, walaupun ada juga beberapa kalus ini yang terbentuk dari sel-sel kortex dan empulur. Pada beberapa fenomena, pembentukan kalus dan pembentukan akar  adalah independen satu dengan lainnya, sehingga hal ini dapat terjadi secara  serempak tergantung dari kondisi lingkungan dan internal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pH media perakaran mempengaruhi proses pembentukan kalus, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi proses pembentukan akar adventif baru.
Pembentukan akar adventif dibatasi oleh faktor-faktor inherent ( faktor bawaan dari tanaman) yang  tidak ditranslokasikan didalam jaringan tanaman. Namun dari beberapa pustaka dikatakan bahwa interaksi antara faktor-faktor yang tidak bergerak (immobile) yang terletak didalam sel, mungkin berupa enzim-enzim tertentu dan nutrien serta faktor-faktor endogen yang mudah ditranslokasi saling berinteraksi untuk menciptakan kondisi yang favorable untuk perakaran.
Pada beberapa penelitian pada setek yang dilakukan diakar ( stek akar),inisiasi akar biasanya terjadi dengan didahului oleh inisiasi daun ( Taylor, 1982). Regenerasi dari akar sangat lambat, kecuali diinduksi oleh  zat pengatur tumbuh dari luar misalnya cytokinin, yang akan merangsang keluarnya akar ( Taylor, 1983). Menurut Lindsay   dan Amstrong ( 1983), akar baru yang terbentuk biasanya bukan merupakan akar adventif tetapi adalah akar yang  berkembang dari akar laten yang terkandung didalam cabang akar-akar tua yang mungkin terbawa ketika stek akar dilakukan. Akar-akar ini biasanya berkembang karena adanya perlakuan hara atau zat pengatur tumbuh. Akar-akar ini berasal dari sel-sel dewasa dari pericycle atau endodermis atau kedua-duanya.
Stek akar yang diambil dari tanaman yang muda atau yang telah memasuki fase juvenil,  lebih cepat  berakar dari yang tua. Secara  fisiologis hal ini menurut Baker          ( 1979), dapat disebabkan karena adanya faktor endogenus yaitu adanya auksin untuk merangsang perkembangan akar adventif dan masih tingginya cytokinin didalam tanaman yang dapat merangsang keluarnya akar  pada  bagian bawah tanaman ( akar asli), namun pada banyak kasus yang sering terjadi adalah akar keluar pertama kali dibawah pucuk adventif, dari akar selain akar yang mengalami pemotongan.
Pada beberapa penelitian pada tanaman hias biasanya tanaman yang pertumbuhan bagian atasnya baik (  bagian atas dari tanaman induk), akan diikuti dengan pertumbuhan akar yang juga baik apabila dilakukan penyetekan akar.
Pada beberapa tanaman  sering  menunjukkan fenotipe yang berbeda dengan induknya ,  misalnya sifat berduri dan tidak berduri, contohnya    pada waktu dilakukan stek  akar akan menghasilkan tanaman yang berduri, sedangkan dengan setek daun atau setek batang akan menghasilkan tanaman yang tidak berduri.  ( Barker, 1978).
Terdapat hubungan yang sangat erat antara sifat-sifat anatomi batang dengan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan akar.
2. 3. Aspek Fisiologi Stek
Pada waktu akar adventif telah terbentuk maka akan terjadi perubahan yang sangat besar pada proses metabolik. Beberapa hasil penelitian pada potongan batang menunjukkan bahwa sintesis protein dan produksi RNA banyak terjadi. Hasil- hasil penelitian lain pada tanaman berkayu menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola DNA  dan enzim ketika akar berkembang. Sintesis protein terjadi sebelum inisiasi akar, peranan protein adalah untuk menghambat inhibitor-inhibitor yang akan mempengaruhi proses metabolik dalam pembentukan akar. Sebagai contoh enzim peroksidase mendekstruksi inhibitor- inhibitor tertentu yang  akan menghambat proses metabolik dalam pembentukan akar adventif.
Beberapa penelitian pada stek advokat yang diberi perlakuan IBA, menggunakan CO2 radioaktif yang diaplikasi kedaun, menunjukkan bahwa setelah kalus dan akar mulai terbentuk terjadi peningkatan dalam jumlah besar dari gula dan terjadi kehilangan yang sangat tinggi dari pati  yang berlangsung dibagian bawah dari stek  Fenomena ini menunjukkan bahwa kalus dan akar yang sedang terbentuk  adalah  sink untuk terjadinya gerakan karbohidrat terlarut  dari bagian atas stek tersebut kearah bawah.
Dalam penelitian lain, pada stek tanaman kacang-kacangan, IAA yang ditambahkan meningkatkan akumulasi gula pada dasar stek, terjadi peningkatan asimilat kearah bawah , hal ini diketahui dari ‘C  berlabel radioisotop yang diberikan kedaun.
Pada telaah fisiologi perakaran stek juga dikenal adanya polaritas yaitu peng-kutuban kesuatu arah tertentu yang inheren pada pucuk dan akar. Stek batang yang diambil dari pucuk yang berada pada ujung distal yaitu bagian yang paling dekat dengan ujung pucuk, dan akar pada ujung proximal ( paling dekat dengan mahkota tanaman         ( crown =  pertemuan pucuk dengan akar). Stek akar membentuk akar pada ujung distal dan membentuk pucuk pada ujung proximal ( Hartman dan Kestler, 1976)
Pada beberapa pustaka menunjukan bahwa polaritas dari jaringan batang sangat kuat, sifat ini disebabkan oleh komponen selular individual, karena betapa kecilnyapun potongan stek, regenerasi secara konsisten terjadi secara polar. Pada waktu sepotong akar dipotong menjadi dua segmen, dua permukaan yang bersentuhan sebelum dipotong adalah serupa dalam segala hal, namun pada saat terjadi regenerasi dari pucuk dan akar, satu permukaan potongan menjadi akar dan permukaan potongan lainnya menjadi batang.
Pada beberapa kasus membuktikan bahwa polaritas regenerasi dari batang sangat kuat dan polaritas regenerasi dari akar lemah,  dan  sangat lemah pada daun. Pengamatan pada stek daun menunjukan bahwa akar dan pucuk muncul pada posisi yang sama, biasanya pada dasar dari stek.
Pada waktu segmen batang dipotong, kesatuan fisiologis terganggu, hal ini menyebabkan suatu redistribusi dari beberapa senyawa, yang terbesar adalah auksin. Gerakan polaritas dari auksin merupakan transpor aktif, dan ternyata merupakan aktivitas sekresi.
2. 4.  Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan stek.
Perbedaan besar terjadi dalam proses pengakaran antar spesies dan  kultivar. Meskipun hubungan botani dapat memprediksi tingkat keberhasilan perakaran yang sama, namun bukti empiris sering berbeda. Keadaan ini disebabkan karena pengaruh yang besar dari berbagai faktor yang saling berinteraksi yaitu antar faktor bahan stek itu sendiri dengan faktor fisiologi dan lingkungan .
Apabila akar telah terinisiasi biasanya proses metabolik akan berlangsung lebih cepat karena akar yang sedang tumbuh merupakan sink untuk translokasi pati atau karbohidrat.
Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa inisiasi akar merangsang sintesis protein dan produksi RNA ( Barber, 1972).   Beberapa hasil penelitian pada tanaman hortikultura khususnya buah-buahan  diketahui bahwa selama  pembentukan akar adventif terdapat banyak enzim-enzim peroxidase, cytochorome oksidase, suksisnic dehidrogenase dan enzim-enzim penghidrolisis pati didalam sel pada jari-jari floem dan xylem dari berkas vaskular. Pada proses perkembangan yang lebih lanjut diketahui bahwa aktifitas dari enzim-enzim tersebut berpindah dari jari-jari floem ke bagian pinggir dari seludang pembuluh.
Selanjutnya Barber ( 1976), mengatakan bahwa   enzim peroksidase berfungsi untuk mendekstruksi inhitor-inhibitor tertentu yang dapat menghambat proses metabolik. Enzim suksinik dehidrogenase dan cythocrome oksidase terlibat dalam respirasi selular, sedangkan enzim amylase terlibat dalam proses perubahan gula dari zat pati sebagai substrat  untuk berbagai proses sintetik.
Pada beberapa penelitian pada stek tanaman anggur ditemukan bahwa stek yang   akar adventif telah keluar serta telah mempunyai kalus, terjadi peningkatan gula dalam jumlah besar , hal ini diduga karena  adanya sink strength dari akar yang telah terbentuk   yang sangat tinggi untuk menarik assimilat dari bagian atas stek ( Taylor, 1976). Hal ini dibuktikan oleh Williams ( 1978),  yang mengatakan bahwa  terjadi pengurasan  pati pada stek  bagian atas.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa bagian yang terluka pada batang,  merangsang penarikan karbohidrat ke bagian bawah dari stek untuk proses penutupan luka dan  merangsang proses inisiasi akar.
Taylor ( 1976), menemukan pada suatu penelitian dengan sumber auksin pada kacang-kacangan ditemukan bahwa terjadi peningkatan akumulasi gula pada dasar stek.
Berdasarkan pernyataan diatas Williams ( 1990), mengatakan bahwa untuk mempercepat keluarnya  akar  adventif maka pada stek sebaiknya diambil dari tanaman induk yang sedang aktif tumbuh dan untuk mempercepat keluarnya akar adventif harus ada bud dan harus ditinggalkan 2 helai daun.  Hal ini   dijelaskan oleh Hartini ( 2001), bahwa untuk keluarnya akar adventif secara fisiologi adalah interaksi dari berbagai hormon . Akar juga adalah sink ,  dan akar yang sedang tumbuh mempunyai sink strength yang tinggi,  untuk  penarikan karbohidrat kebawah  dalam  proses penutupan luka dan inisiasi akar. Daun yang telah ada pada waktu penyetekan dapat merupakan tempat terjadinya  fotosintesis, sehingga adalah sumber fotosintat bagi akar..
sedangkan enzim amylase terlibat dalam proses perubahan gula dari zat pati sebagai substrat  untuk berbagai proses sintetik.
Pada beberapa penelitian pada stek tanaman anggur ditemukan bahwa stek yang   akar adventif telah keluar serta telah mempunyai kalus, terjadi peningkatan gula dalam jumlah besar , hal ini diduga karena  adanya sink strength dari akar yang telah terbentuk   yang sangat tinggi untuk menarik assimilat dari bagian atas stek ( Taylor, 1976). Hal ini dibuktikan oleh Williams ( 1978),  yang mengatakan bahwa  terjadi pengurasan  pati pada stek  bagian atas.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa bagian yang terluka pada batang,  merangsang penarikan karbohidrat ke bagian bawah dari stek untuk proses penutupan luka dan  merangsang proses inisiasi akar.
Taylor ( 1976), menemukan pada suatu penelitian dengan sumber auksin pada kacang-kacangan ditemukan bahwa terjadi peningkatan akumulasi gula pada dasar stek.
Berdasarkan pernyataan diatas Williams ( 1990), mengatakan bahwa untuk mempercepat keluarnya  akar  adventif maka pada stek sebaiknya diambil dari tanaman induk yang sedang aktif tumbuh dan untuk mempercepat keluarnya akar adventif harus ada bud dan harus ditinggalkan 2 helai daun.  Hal ini   dijelaskan oleh Hartini ( 2001), bahwa untuk keluarnya akar adventif secara fisiologi adalah interaksi dari berbagai hormon . Akar juga adalah sink ,  dan akar yang sedang tumbuh mempunyai sink strength yang tinggi,  untuk  penarikan karbohidrat kebawah  dalam  proses penutupan luka dan inisiasi akar. Daun yang telah ada pada waktu penyetekan dapat merupakan tempat terjadinya  fotosintesis, sehingga adalah sumber fotosintat bagi akar..
2.4.1.      Tanaman  induk.
Tanaman induk yang dimaksud adalah bahan tanam yang akan digunakan untuk memperbanyak tanamam. Bahan tanam harus berasal  dari  pohon induk yang sehat dan telah diketahui asal-usulnya, mudah dibiakan,  tahan hama dan penyakit, produktivitas tinggi, bercabang kekar, tumbuh normal,serta memilliki perakaran yang kuat dan rimbun.
Untuk memperbanyak tanaman keras dan tanaman buah tahunan tanaman induk harus dipilih dari tanaman yang sudah berbuah sedikitnya lima kali agar diketahui secara pasti keunggulan sifat buahnya. Untuk tanaman sayuran dan buah-buahn berumur pendek, tanaman induk di pilih dari tanaman yang bersosok kekar, pertumbuhannya baik dan sehat.
Tanaman induk dapat berupa tanaman lokal atau tanaman yang diintroduksi yaitu tanaman unggulan dari dalam negeri ( lokal)  atau didatangkan dari luar negeri. Cara ini biasanya dilakukan oleh para hobiss yang ingin cepat mendapatkan pohon induk. Sebagai contoh adalah introduksi varietas unggul durian dari Thailand, misalnya si otong dan kani, dua jenis durian unggul dari thailand, yang sekarang telah menjadi durian unggul nasional.. Contoh lain adalah aglaonema dan adenium hibrida yang berasal dari  Thailand.
Selain dengan cara diatas dapat juga dilakukan dengan melakukan eksplorasi atau melacak keberbagai tempat yang diduga merupakan sentra atau banyak terdapat tanaman unggu atau tanaman unik.
Cara lain untuk mendapatkan tanaman induk adalah dengan melacak di arena kontes atau lomba.Biasanya tanaman yang menjadi pemenang  dikontes atau lomba pada ajang-ajang bergengsi akan disahkan dan dilepas pemerintah sebagai varietas unggul nasional. Contohnya adalah durian Petruk yang memenangkan lomba durian yang diadakan Dinas Pertanian Kabupaten Jepara dan belimbing Dewi yang memenangkan lomba buah unggul yang diadakan oleh Dinas Pertanian DKI.
2. 4.2. Faktor fisiologi tanaman:
Hormon dan Zat pengatur tumbuh tanaman
§  Auksin .
§  Cytokinin
§  Giberalin
§  Bahan-bahan yang terbentuk secara alami.
Efek dari daun dan tunas
Efek dari inhibitor.
2. 4. 2.1. Hormon dan  Zat tumbuh tanaman.
Hormon tanaman adalah senyawa organik yang disintesis disalahsatu bagian tanaman dan dipindahkan kebagian lain, dan pada konsentrasi yang sangat rendah mampu menimbulkan suatu respon fisiologis. Ini adalah batasan hormon yang diterima secara universal.
Zat pengatur tumbuh tanaman adalah zat organik yang dalam jumlah kecil  mempunyai aktifitas menstimulasi, menghambat, menekan ( retardasi) dan memodifikasi berbagai proses fisiologi.
Zat pengatur tumbuh tidak disintesis didalam tanaman. (Gardner et al., 1991), mendefinisikan zat pengatur tumbuh tanaman yang di sintesis didalam tanaman dengan sebutan hormon tanaman atau fitohormon. Istilah hormon berasal dari fisiologi hewan yang berarti suatu substansi yang disintesis dalam suatu organ yang akan merangsang terjadinya respon pada organ yang lain. Hormon tanaman tidaklah khusus seperti hormon hewan yang sangat spesifik  akan tempat sintesis ataupun organ tempat responnya, tetapi cenderung mengikuti pola tingkah laku yang umum.
Pada saat ini terdapat lima jenis zpt yaitu auksin, giberelin, sitokinin atau kinin, penghambat pertumbuhan dan etilen.
Sifat-sifat tertentu diperlukan bagi suatu senyawa agar dapat dikelompokkan sebagai fitohormon yaitu : (1) tempat sintesis berbeda dari tempat aktifitasnya, misalnya sintesis dipucuk dan  daun muda, tetapi responnya dibatang, akar atau organ-organ lain. ,(2) respon dihasilkan oleh sejumlah atau sangat kecil ( konsentrasi)., (3) tidak seperti pada vitamin dan enzim, respon mungkin berbentuk formatif dan plastik( tidak dapat pulih, misalnya respon tropi).
Gambar 1.     Beberapa Zat Pengatur Tumbuh  Tanaman yang biasa diaplikasikan, untuk     merangsang pertumbuhan akar dan berbagai proses fisiologis bahan stek.
Tabel 7.1. Aktifitas fitohormon dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Proses tanaman
Auksin
GA
Sitokinin
Penghambat pertumbuhan ( ABA)
Etilen
Pembelahan sel

X
X


Pembesaran sel
X
X
X


Inisiasi akar
X

X


Pembentukan kalus
X

X


Pembentukan xilem
X

X


Sintesis RNA dan protein
X
X
X


Pemanjangan batang
X
X



Pertumbuhan tunas lateral
X

X
X
X
Perakaran
X
X
X

X
Sumber : Leopold dan Kriedaman ( 1975).
Auksin.
Auksi secara specifik aktivitasnya merangsang perpanjangan sel. Auksin merupakan hormon tanaman pertama yang diisolasi dari alam yang dikenal dengan Indole acetic acid ( IAA). Yang termasuk dalam IAA adalah IBA ,  sedangkan 2,4 D, NAA ( Naptaline acetic acid) dan MCPA ( Metil chloro phenoksi asetat = 2- metil-4 klorofeknoksi asetat), tidak disintesis di tanaman sehingga disebut zat pengatur tumbuh tanaman. Precursor IAA adalah asam amino triptopan.
Auksin dihasilkan pada jaringan meistem yang aktif seperti bud, kuncup, daun muda dan buah yang dimobilisasi oleh enzim IAA oksidase disamping enzim peroksidasi dan beberpa enzim oksidase lainnya. Auksin ditransportasi secara besipetal dan symplastic melalui pholoem. Ada beberpa karakteristik respon terhadap auksin yaitu;
§  Dipengaruhi konsentrasi, konsentrsi harus rendah sehingga akan mempengaruhi aktivitas merangsang perpanjangan sel, tetapi apabila dalam jumlah besar akan bersifat inhibitor.
§  Berhubungan dengan geotropisme dan fototropisme, gerakan yang dipengaruhi oleh rangsang cahaya berhubungan dengan redistibusi auksin sehingga mengalami kesetimbangan.
§  Auksin mengkoordinasi morfogenesis, pada akar dan pucuk bila tidak dalam kesetimbangan kemudian ditambah dari luar maka akan berfungsi menghamabat. Pada kalus, bila diberi dari maka akan berfungsi sebagi promotor dan merangsang  perakaran pada perpanjangan bagian vegetatif.
Auksin terlibat dalam berbagai aktivitas tanaman, seperti pertumbuhan batang, pembentukan akar, membantu untuk menginduksi tunas lateral, pengaktifan sel-sel kambium dsb.
Indole-3-acetic acid (IAA) diidentifikasi sebagai senyawa yang terbentuk secara alami, yang mempunyai kerja auksin yang sangat kuat dan dapat memacu pembentukan akar adventif.
Kadar auksin endogen dan aktivitasnya dalam jaringan berhubungan dengan keseimbangan antara sintesis dengan hilangnya auksin karena transpor dan metabolisme. Auksin diproduksi didalam jaringan merimatik yang aktif ( yaitu tunas, daun uda dan buah). Terjadi imobilisasi oleh fotoksidasi, dan oksidasi enzim ( IAA-oksidase) diseluruh bagian tanaman, terutama dalam jaringan tanaman yang lebih tua ( Wareing dan Philios, 1978).
Transpor auksin berlangsung secara besipetal, yaitu dari ujung ke basal. Pembalikan ujung batang tidak merubah polaritas ini. Walaupun demikian beberapa penelitian, beberapa penelitian dengan menggunakan radioisotop IAA menunujukkan gerakan akropetal ( dari basal ke ujung). ( Gardner et al., 1991).
Transpor auksin adalah simplatik ( dalam floem) dan adalah aktif. Sitokinin dan GA mempercepat transpor auksin, sedangkan penghambat pertumbuhan dalam konsentrasi yang sangat rendah sudah dapat menghambat transpor auksin.
Bahan lain yang dapat memacu pembentukan akar adventif tetapi tidak terbentuk secara alami dan pengaruhnya seperti auksin adalah Indolbutyricacid ( IBA) dan naphtaneaceticacid ( NAA). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bahan ini dapat memacu pembentukan akar dibeberpa segmen batang dengan sangat effektif.
Beberapa hasil penelitian pada tanaman perkebunan maupun buah-buahan membuktikan bahwa inisiasi akar pada batang yang distek tergantung pada auksin asli ( native auxin) maupun auksin yang diaplikasi bersama-sama dengan sinergis auksin ((auxin synergis) dapat menginduksi RNA yang terlibat dalam primodia akar.
Tony, Hendro dan Baga ( 1980),  melakukan penelitian pengaruh IBA terhadap pertumbuhan mata tunas dari belahan bonggol pisang Ambon Putih dengan lama perendaman 30 menit, memberikan hasil terbaik terhadap munculnya tunas dibandingkan perlakuan lainnya.
Selanjutnya , Hennywati, Hendro dan Baga ( 1980), juga melakukan penelitian pada bonggol pisang ambon putih untuk melihat pertumbuhan tunas pada beberapa perbedaan konsentrasi, ternyata pada konsentrasi 70 ppm memberikan hasil terbaik dan tercepat keluarnya tunas dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Selanjutnya  penelitian pada nanas dengan menggunakan IBA, untuk melihat kecepatan keluarnya perakaran tunas, hasil terbaik adalah dengan merendam tunas selama 24 jam dengan konsentrasi IBA 50 ppm. (Budi, Siti dan Siswando ( 1981))
Cytokinin
Cytokinin dikenal sebagai zat pengatur tumbuh yang merangsang sitokinesis ( pembelahan sel). Zeatin diperoleh dari isolasi endosperm biji muda jagung, zeatin kaya akan kinin, tempat sintesiinya adalah akar  muda, buah muda dan jaringan endosperm muda. Cytokinin berasal dari adenin dengan rantai cabang yang berasal dari isoperne. Dialam kini terkonjugasi dengan gula dan pospat.
.
Cytokinin adalah hormon tanaman yang terlibat dalam pertumbuhan sel dan differensiasi. Bebagai bahan alami maupun sintetik seperti Zeatin, kinetin, dan 6-benzyl adenin memiliki aktifitas seperti cytokinin. Beberapa penelitian pada batang kapri, pada fase awal pertumbuhan menunjukkan bahwa pada konsentrasi rendah dapat memacu inisiasi akar tetapi pada konsentrasi tinggi justru menghambat inisiasi akar. Namun aplikasi pada fase lebih lanjut  pada konsentrasi tinggi tersebut tidak menghambat inisiasi akar.
Penelitian pada tembakau menunjukkan bahwa cytokinin dalam aksinya berhubungan dangan auksin. Stek daun adalah bahan yang sangat baik digunakan untuk menguji perilaku auksin dan cytokinin. Pada penelitian dengan stek begonia tampak bahwa pemberian cytokinin yang relatif tinggi ( 13ppm), merangsang pembentukan tunas dan menghambat pembentukan akar, auksin pada konsentrasi yang tinggi memberikan  efek yang berlawanan. Namun terdapat hubungan interaksi antar auksin dan cytokinin. Pada konsentrasi rendah ( sekitar 2 ppm),  IAA memacu pembentukan tunas, yang berarti memperkuat pengaruh cytokinin. Juga pada konsentrasi rendah ( sekitar 0,8ppm),  kinetin menstimulasi pengaruh IAA dalam memacu perakaran.
Faktor lingkungan seperti suhu dan panjang hari saling berhubungan dalam   kerja auksin dan cytokinin. Pada temperatur tinggi ( 27°C) menghambat pembentukan tunas dan melawan efek perangsangan dari cytokinin dalam proses pembentukan tunas maupun efek yang menekan dari cytokinin. Sebaliknya efek auksin distimulasi pada hari panjang dan pada temperatur rendah (15°C). Namun pada intensitas cahaya rendah, baik auksin maupun kemampuan regenerasi tidak dipengaruhi suhu.
Pada cocor bebek , tunas diinisiasi pada lekukan daun,  dan terjadi pada fase dini dalam pembentukan daun. Pucuk yang tumbuh kemudian menjadi  daun berasal dari tunas-tunas ini. Pada fase ini,  aplikasi cytokinin mempunyai efek perangsangan pada perkembangan tunas sedangkan aplikasi auksin menghambat perkembangan tunas tetapi menstimulasi pembentukan akar.
Gibberalin ( GA).
GA berbeda dengan auksin dalam aktivitas fisiologinya., GA sangat luas, walaupun secara khusus dan sangat spesifik adalah memperpanjang buku ( internode elongation). Pada beberapa penelitian tanaman yang cukup GA, apabila kekurangan akan memberikan pengaruh dwarfisme. GA dalam kondisi yang berlebih tidak langsung menyebabkan toksik dan pengaruh menghambat ( inhibitor).
Menurut Weaver (……),   GA  adalah suatu kelompok yang saling berkaitan dari  senyawa-senyawa yang terbentuk secara alami, dan dikenal terutama karena pengaruhnya dalam merangsang pemanjangan batang. Pada konsentrasi yang relatif  tinggi tampak  menghambat pembentukan akar adventif. Terdapat bukti bahwa penghambatan tersebut merupakan efek langsung yang mencegah pembentukan awal sel yang terlibat dalam transformasi dari jaringan batang dewasa kekondisi merismatik.
Banyak peneliti yang mengasumsikan GA, ditranslokasikan secara simplastik, tetapi kehadirsn GA, dalam jumlah tinggi padaa jaringan floem maupun xilem pada kondisi tertentu menunjukkan bahwa transpor mungkin berlangsung secara simplastik maupun apoplastik ( Krisnamoorthy, 1975),  laju transpor dalam floem menurut pengamatan sama dengan laju transpor karbohidrat. Kalau pergerakan auksin mungkin pasipetal atau akropetal maka GA  bebas besipetal dan akropetal.
Giberalin mempunyai fungsi regulasi sintesis asam nukleat dan kemungkinan  menekan inisiasi akar melalui interferensi dalam proses tersebut. Namun pada beberapa hasil penelitian pada tomat dan kapri menunjukkan bahwa pada konsentrasi rendah giberalin merangssang inisiasi akar . Penelitian yang lain pada daun begonia tampak giberalin menekan pembentukan tunas, namun merangsang pembentukan akar.
Hasil penelitian Asandhi ( 1987), menunjukkan bahwa pada konsentrasi yang rendah GA, merangsang keluarnya akar adventif pada kedondong, namun apabila konsentrasi dinaikkan akar menjadi terhambat namun tunas  yang telah ada sewaktu penyetekan akan lebih dahulu muncul.
Pernyataan diatas didukung oleh hasil penelitian pada stek daun Sansievera sp. menunjukkan pada konsentrasi yang rendah GA merangsang keluarnya root tip, namun peningkatan dosis akan lebih merangsang keluarnya tunas daripada munculnya root tip.   ( Baker dan Lindsay, 1989).
Giberalin adalah sejenis hormon tumbuh yang mula-mulla ditemukan di Jepang oleh Kurosowa pada tahun 1926. Kurosowa melakukan penelitian pada penyakit bakane yang menyerang padi. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Giberella fujikoroi  Sampai saat ini telah ditemukan 10 jenis giberelecic acid yang disimbolkan GA ( 1 -10). Sebagai hormon, GA sangat berpengaruh terhadap sifat genetik dwarfsisme ( kerdil karena mutasi), pembungaan, partenokarpi, pemanjangan sel, merangsang keluarnya akar dan berbagai proses fisiologis lainnya. Yang terutama  fungsi GA dari seluruh proses fisiologi adalah pemanjangan sel dan meransang  aktivitas kambium.( Sujatmaka,……….)
Pada suatu penelitian pada tanaman anggur, jeruk , jambu, penggunaan GA merangsang pemanjangan akar.  Aplikasi pada bahan stek mempercepat keluarnya akar adventif pada dosis yang rendah, peningkatan dosis yang diberikan tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata. ( Lindsay dan Taylor, 1989).
Gambar  2.     Zat  pengatur tumbuh GA.
Bahan-bahan yang terbentuk secara alami
Banyak senyawa baik yang telah diidentifikasi yang berpengaruh dalam merangsang pembentukan akar adventif. Beberapa  diantaranya adalah semacam kofaktor pengakaran ( rooting cofactor). Meskipun dapat diekstrak dari tanaman namun secara normalnya tidak dimasukkan dalam proses fisiologi.
§  Ethylene (C2H4) dihasilkan  oleh tanaman dan mempunyai pengaruh hormonal meskipun tidak secara pasti memenuhi definisi hormonal. Penelitian terhadap ethylene pada beberapa tanaman sering memberikan hasil yang tidak konsisten. Namun Krisnamoorty ( 1999),  menemukan pada tanaman jambu air bahwa pemberian ethylene dalam bentuk Ethapon  bersama dengan IAA  akan merangsang pembentukan akar adventif.
§  Eth dalam aktivitasnya sangat luas, dapat meningkatkan kerja auksin, karena antara Eth dan auksin terdapat hubungan yang sangat erat.
§  Banyak bahan-bahan lain yang mempunyai fungsi seperti hormon namun belum dapat diidentifikasi

Komentar