Widget edited by sumberajaran


Home » , , » Makalah Penyiapan Lahan Karet

Makalah Penyiapan Lahan Karet

BAB I PENDAHULUAN
1.1.LATARBELAKANG
Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi
cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, sehingga memiliki
prospek yang cerah. Oleh sebab itu upaya peningkatan produktifitas usaha tani karet
terus dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya .

Tanaman karet ( Hevea brasilliensis ) merupakan tanaman tahunan. Siklus tanaman karet 25 tahunan, yaitu perhitungan masa waktu dibutuhkan tanaman karet yang dimulai dari saat menanam karet dikebun sampai dengan peremajaan karet kembali. Karet mempunyai arti yang penting bagi sebagian kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia sebagai sumber penghasilan petani karet rakyat. Disamping itu tanaman karet juga menjadi harapan tersedianya peluang lapangan kerja bagi penduduk dan sekaligus sebagai salah satu komoditi penghasil devisa bagi negara.
Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber). Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu upaya percepatan peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir.

1.2.TUJUAN
-          Dapat mengetahui cara penyiapan lahan untuk tenaman karet
-          Dapat memgetahui cara pemeliharaan tanaman karet
BAB II PEMBAHASAN

A.    PENYIAPAN LAHAN
Lahan tempat tumbuh tanaman karet harus bersih dari sisa-sisa tumbuhan hasil tebas, ngimas, tumbang sehingga jadwal pembukaan lahan harus disesuaikan dengan jadwal penanaman.  Dalam mempersiapkan lahan pertanaman karet juga diperlukan pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara sistematis dapat menjamin kualitas lahan yang sesuai dengan persyaratan. Beberapa diantara langkah tersebut antara lain :
-          pembabatan semak belukar,
-          penebangan  dan penumbangan pohon
-          merencek dan pemangkasan
-          pendongkelan akar kayu
-          penumpukan dan pembakaran serta pembersihan
-          membajak tanah
Pada lahan yang telah selesai tebas tebang dan lahan lain yang mempunyai vegetasi alang-alang, dilakukan pemberantasan alang-alang dengan menggunakan bahan kimia antara lain Round up, Scoup, Dowpon atau Dalapon. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan pemberantasan gulma lainnya, baik secara kimia maupun secara mekanis. Pengolahan lahan untuk pertanaman karet dapat dilaksanakan dengan sistem minimum tillage, yakni dengan membuat larikan antara barisan satu meter dengan cara mencangkul selebar 20 cm. Namun demikian pengolahan tanah secara mekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesuburan tanah.
Seiring dengan pembukaan lahan ini dilakukan penataan lahan dalam blok-blok, penataan jalan-jalan kebun, dan penataan saluran drainase dalam perkebunan. Penataan blok-blok. Lahan kebun dipetak-petak menurut satuan terkecil dan ditata ke dalam blok-blok berukuran 10 -20 ha, setiap beberapa blok disatukan menjadi satu hamparan yang mempunyai waktu tanam yang relatif sama. Jaringan jalan harus ditata dan dilaksanakan pada waktu pembangunan tanaman baru dan dikaitkan dengan penataan lahan ke dalam blok-blok tanaman. Pembangunan jalan di areal datar dan berbukit dengan pedoman dapat menjangkau setiap areal terkecil, dengan jarak pikul maksimal sejauh 200 m. Sedapatkan mungkin seluruh jaringan ditumpukkan/ disambungkan, sehingga secara keseluruhan merupakan suatu pola jaringan jalan yang efektif. Lebar jalan disesuaikan dengan jenis/kelas jalan dan alat angkut yang akan digunakan.
Setelah pemancangan jarak tanam selesai, maka pembuatan dan penataan saluran drainase (field drain) dilaksanakan. Luas penampang disesuaikan dengan curah hujan pada satuan waktu tertentu, dan mempertimbangkan faktor peresapan dan penguapan. Seluruh kelebihan air pada field drain dialirkan pada parit-parit penampungan untuk selanjutnya dialirkan ke saluran pembuangan (outlet drain).
·         Usaha Pencegahan Erosi Dan Tanaman  Penutup Tanah
Untuk mencegah terjadinya erosi dapat dilakukan dengan penanaman tanaman penutup tanah, selain itu tanaman penutup tanah juga dapat melindungi tanah dari sinar matahari langsung, menekan pertumbuhan gulma. Tanaman penutup tanah juga mempercepat matang sadap dan mempertinggi hasil lateks.Tanaman penutup tanah dapat dipilih dari 3 ( tiga ) jenis tanaman, yaitu tanaman merayap, tanaman semak dan tanaman pohon. Tanaman merayap terdiri atas rumput dan jenis leguminosa seperti Pueraria javanica, Centrosema pubescens dan Calopogonium mucunoides. Tanaman merayap, tanaman semak yang biasa digunakan adalah crotalaria usara moensis, C juncea, C anagyrroides, Tephorosia Candida dan T. Vogelili sedangkan tanaman pohon yang digunakan sebagai tanaman penutup adalah petai cina namun sangatlah jarang kecuali pada daerah daerah yang sering terjadi angin kencang dan serangan babi hutan. Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman  kerusakan oleh  erosi dan / atau untuk memperbaiki sifat kimia dan sifat fisik tanah.
Tanaman penutup tanah berperan: (1) menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, (2) menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan (3) melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi.
Tumbuhan atau tanaman yang sesuai untuk digunakan sebagai penutup tanah dan digunakan dalam sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat-syarat (Osche et al, 1961): (a) mudah diperbanyak, sebaiknya dengan biji, (b)  mempunyai sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok, tetapi mempunyai sifat pengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, (c) tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, (d) toleransi terhadap pemangkasan, (e) resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, (f) mampu menekan pertumbuhan gulma, (g) mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, (h) sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah, dan (i) tidak mempunyai sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti duri dan sulur-sulur yang membelit.
Tanaman penutup tanah atau tanaman pembantu dapat digolongkan dalam:

-          Tanaman penutup  tanah rendah, tanaman penutup tanah rendah terdiri dari jenis rumput-rumputan  dan tumbuhan merambat atau menjalar.

-          Tanaman Penutup Tanah sedang (perdu)

-          Tanaman penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung


·         Pengajiran
Pada dasarnya pemancangan air adalah untuk menerai tempat lubang tanaman dengan ketentuan jarak tanaman sebagai berikut :
a)      Pada areal lahan yang relatif datar / landai (kemiringan antara 0% - 8%) jarak tanam adalah 7 m x 3 m (= 476 lubang/hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti arah Timur - Barat berjarak 7 m dan arah Utara - Selatan berjarak 3 m
b)      Pada areal lahan bergelombang atau berbukit (kemiringan 8% - 15%) jarak tanam 8 m x 2, 5 m (=500 lubang/ha) pada teras-teras yang diatur bersambung setiap 1,25 m (penanaman secara kontur). Bahan ajir dapat menggunakan potongan bambu tipis dengan ukuran 20 cm - 30 cm. Pada setiap titik pemancangan ajir tersebut merupakan tempat penggalian lubang untuk tanaman.


·         pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang untuk tanaman dibuat 60 cm x 60 cm bagian atas , dan 40 cm x 40 cm bagian dasar dengan kedalaman 60 cm. Pada waktu melubang, tanah bagian atas (top soil) diletakkan di sebelah kiri dan tanah bagian bawah (sub soil) diletakkan di sebelah kanan. Lubang tanaman dibiarkan selama 1 bulan sebelum bibit karet ditanam. Lahan yang akan ditanami tanaman karet harus disiapkan terlebih dahulu dengan membuat lubang tanam berjarak antar lubang 7 x 3 meter. Pembuatan lubang tanam dimulai dengan mengajir lubang tanam sesuai jarak yang dianjurkan. Jika tanah yang disiapkan bentuk teras kontur jarak antar teras 7 meter ajir yang dipancang pada barisan berjarak 3 meter. Sedangkan pada tanah datar yang tanpa teras pemancangan dilakukan sesuai system penanamannya dengan jarak 7 meter kearah utara selatan dan 3 meter kearah timur barat. Perlu diperhatikan pada tanaman karet yang ditanam pada lokasi kemiringan tanah dibawah 10 %. harus menggunakan larikan dan pada tanah yang kemiringannya lebih digunakan teras.
B.     PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN
Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit untuk memperoleh bahan tanam yang memeliki sifat-sifat umum yang baik antara lain : berproduksi tinggi, responsif terhadap stimulasi hasil, resitensi terhadap serangan hama dan penyakit daun dan kulit, serta pemulihan luka kulit yang baik. Beberapa syarat yang harus dipenuhi bibit siap tanam adalah antara lain :
-          Bibit karet di polybag yang sudah berpayung dua.
-          Mata okulasi benar-benar baik dan telah mulai bertunas
-          Akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral
-          Bebas dari penyakit jamur akar (Jamur Akar Putih)
Kebutuhan bibit.
Dengan jarak tanam 7 m x 3 m (untuk tanah landai), diperlukan bibit tanaman karet untuk penanaman sebanyak 476 bibit, dan cadangan untuk penyulaman sebanyak 47 (10%) sehingga untuk setiap hektar kebun diperlukan sebanyak 523 batang bibit karet.
·         Penanaman
Pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musim penghujan yakni antara bulan September sampai Desember dimana curah hujan sudah cukup banyak, dan hari hujan telah lebih dari 100 hari. Pada saat penanaman, tanah penutup lubang dipergunakan top soil yang telah dicampur dengan pupuk RP 100 gram per lubang, disamping pemupukan dengan urea 50 gram dan SP - 36 sebesar 100 gram sebagai pupuk dasar. Penanam ini dilakukan dengan tujuan agar  bibit yang ditanam di lapang akan memperoleh air yang cukup untuk pertumbuhannya. Lubang yang telah dibuat diisi kembali dengan tanah sedalam setengah dalam lubang tanam kemudian bibit diletakan ditengah lubang tanam dan setangah bagian lagi tanah dimasukan dan dipadatkan. Bibit tertanam baik jika bibit tidak mudah bergoyang.
Sistem penanaman karet ada 2 ( dua ) macam yaitu sistim penanaman karet monokultur dan sistem tumpang sari. Penanaman sistim monokultur merupakan penanaman karet dengan jarak tanam segi tiga, bujur sangkar dan tidak teratur. Pada sistim jarak segitiga dan bujur sangkar dapat dilakukan pada lokasi tanah datar sampai agak datar dengan hasil jarak tanam yang teratur. Sedangkan pada lokasi tanah miring yang diteras menggunakan jarak tanam tidak teratur, karena itu penampakan barisan tidak sempurna dan banyak dijumpai pada perkebunan yang menggunakan jarak tanam tidak teratur Sedangkan pada tanaman karet tumpang sari merupakan pola tradisional perkebunan karet rakyat dengan jarak tanam didalam barisan tanaman dibuat rapat dan jarak tanam antar barisan dibuat renggang agar penyinaran matahari sempurna.
Pertumbuhan tanaman karet sangat tergantung dari tanah dan iklim.Tanaman karet akan tumbuh dengan baik pada daerah ketinggian 0 - 400 meter diatas permukaan laut paling baik pada ketinggian 0 - 200 meter dan setiap kenaikan 200 meter matang sadap terlambat 6 bulan.. Tanaman karet menghendaki daerah yang bercurah hujan 1.500 - 4.000 mm per tahun dan merata sepanjang tahun dengan jumlah hari hujan.100 - 150 hari hujan. Hujan selain digunakan untuk pertumbuhan karet juga ada hubungannya dengan pemungutan hasil panen karet utamanya pada jumlah hari hujan turun pada pagi hari. Angin juga berpengaruh pada tanaman karet. Angin yang kencang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman karet. Kondisi lingkungan yang lembab disekitar tanaman karet juga dapat berpengaruh pada penurunan produksi karet..
Cara Penanaman bibit
Bibit karet biasanya dihasilkan dari hasi okulasi yang ditanam dari kebun pembibitan atau polybag. Pemindahan bibit dari kebun pembibitan dilakukan dengan cara dibongkar, yaitu menggali parit 50 cm disisi barisan bibit. Selanjutnya bibit dipegang pada bagian atas okulasi dan dicabut. Penanaman tanaman karet harus menggunakan bibit karet yang berakar tunggang satu buah dan lurus, bila lebih harus dipotong. Bibit karet yang digunakan bibit stum mata tidur yang sudah mempunyai 2 - 3 payung daun. Pada daerah yang cukup jauh dari kebun pembibitan perlu adanya perlakuan pada bibit karet dengan cara membungkus bibit karet secara rapat dengan gedebok pisang, serabut kelapa yang disusun selapis demi selapis. Tujuan pembungkusan agar mata tunas atau batang okulasi tidak terjadi kerusakan. Jika bibit okulasi menggunakan polybag pengangkutannya langsung menggunakan polybag. Pembongkaran bibit dilakukan pada saat tanam karet siap untuk ditanam
·         Pemeliharaan
Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman.
1.      Penyulaman
-          Bibit yang baru ditanam selama tiga bulan pertama setelah tanam diamati terus menerus.
-          Tanaman yang mati segera diganti.
-          Klon tanaman untuk penyulaman harus sama.
-          Penyulaman dilakukan sampai unsur 2 tahun.
-          Penyulaman setelah itu dapat berkurang atau terlambat pertumbuhannya.

2.      Pemotongan Tunas Palsu
Tunas palsu dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 1 kali 2 minggu, sedangkan tunas liar dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 meter.
3.      Merangsang Percabangan
Bila tanaman 2 – 3 tahun dengan tinggi 3,5 meter belum mempunyai cabang perlu diadakan perangsangan dengan cara :
-          Pengeringan batang (ring out)
-          Pembungkusan pucuk daun (leaf felding)
-          Penanggalan (tapping)
4.      Pemupukan
-          Pemupukan dilakukan 2 kali setahun yaitu menjelang musim hujan dan akhir musim kemarau, sebelumnya tanaman dibersihkan dulu dari rerumputan dibuat larikan melingkar selama – 10 Cm. Pemupukan pertama kurang lebih 10 Cm dari pohon dan semakin besar disesuaikan dengan lingkaran tajuk. . Selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat penanaman, program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun. Jadwal pemupukan pada semeseter I yakni pada Januari/Februari dan pada semester II yaitu Juli/Agustus. Seminggu sebelum pemupukan, gawangan lebih dahulu digaru dan piringan tanaman dibersihkan. Pemberian SP-36 biasanya dilakukan dua minggu lebih dahulu dari Urea dan KCl.
Teknik Perlindungan Tanaman Karet
a.       Hama Tanaman Karet
Hama adalah perusak tanamam yang berupa hewan seperti serangga, tungga, mamalia dan nematoda. Beberapa jenis yang cukup merugikan yaitu:
1.      Kutu Lak (Laccifer)
Ciri-ciri :
-          Menyerang tanaman karet dibawah 6 tahun.
-          Kutu berwarna jingga kemerahan dan terbungkus lapisan lak.
-          Mengeluarkan cairan madu, membuat jelaga hitam dan bercak pada tempat serangan.
-          Bagian yang diserang ranting dan daun lalu cairannya dihisap sehingga bagian tanaman yang terserang kering.
-          Penyebaran kutu lak dibantu semut gramang.
Pengendalian :
-          Lakukan pengawasan sedini mungkin.
-          Bila serangan ringan lakukan pengendalian secara mekanais, Fisik dan Biologis
-          Bila serangan berat, dengan Insektisida Albocinium 2% dan formalin 0,15% ditambah Surfaktan Citrowet 0,025%, penyemprotan interval 3 mg.
2.      Pscudococcus Citri
Ciri-ciri :
-          Stadia yang merusak adalah nympha dan imago berwarna kuning muda
-          Meyerang tanaman yang masih muda seperti ranting dan tangkai daun.
Pengendalian :
-          Bila serangan berat bisa menggunakan Insektisida jenis metamidofos dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 0,05%-0,1%
-          Interval penyemprotan 1-2 mg


b.      Penyakit Tanaman Karet
1.      Penyakit Embun Tepung
Penyebab: Cendawan Oidium heveae
Gejala: Menyerang daun muda lalu berbintik putih dan merangas . Umumnya menyerang setelah musim gugur daun.
Pengendalian: pemeliharaan yang intensif, penyelarasan beban sadapan Secara kimiawi dengan belerang circus dosis 3 – 5 Kg/Ha interval 3 – 5 hari.
2.      Penyakit Daun Colletotrichum
Penyebab: Colletotrichum gloeosporioides
Gejala: Daun muda cacat dan gugur, pucuk gundul daun bercak coklat, ditengah bercak berwarna putih bintik hitam (spora)
Pengendalian: Dengan Fungisida
3.      Penyakit Kanker garis
Penyebab: Phytophthora palmivora butl
Gejala: Bidang sadapan terdapat garis vertikal berwarna hitam dan bisa masuk sampai kebagian kayu dan kulit membusuk. Banyak timbul dimusim penghujan dan kebun yang terlampau lembab Makin rendah irisan, kemungkinan infeksi makin besar.
Pengendalian: Secara mekanis penjarangan pemangkasan pelindung, penanaman penutup tanah. Secara Kimiawi dengan Fungisida (B.a. Kaptofol)


4.      Penyakit Jamur Upas
Penyebab: Cortisium salmonicolor
Gejala: Tajuk pada dahan / cabang akan layu sehingga tanaman lemah dan produksi turun. Pengendalian: Secara kimiawi luka akibat serangan dilumas dengan fungisida bahan aktif tridermof (Calizin Rm 2%).
5.      Penyakit Bidang Sadapan
Penyebab: Ceratocystis Fimbriata
Gejala: Menerang kulit bidang sadapan yaitu timbul selaput benang berwarna putih kelabu lalu. Penyebaran melalui spora spora dan pisau sadap.
Pengendalian: Secara mekanis dengan mengurangi kelembaban. Secara kimiawi dengan Fungisida bahan aktif benomil dan Kaptofol.
6.      Penyakit Cendawan Akar putih
Penyebab: Cendawan Fomes Lignosus
Gejala: Daun kusam, menguning, layu dan akhirnya gugur Tanaman bila dibongkar pada akar terdapat cendawan berwarna putih kekuningan.
Pengendalian: Secara mekanis saat pembukaan lahan tunggul dan akar harus dibongkar Penanaman 1-2 tahun setelah pembongkaran. Tanaman sakit dibongkar lalu dibakar. Secara kimiawi akar yang terserang dipotong lalu diolesi fungisida.




Tumpangsari/Tanaman sela/intercroping
Pada lahan penanaman karet, petani biasanya melakukan tumpang sari/membuat (member) tanaman sela pada daerah penanaman karet tersebut. Syarat-syarat pelaksanaan tumpangsari :

-          Topografi tanah maksimum 11 (8%)
-          Pengusahaan tanaman sela diantara umur tanaman karet 0 – 2 tahun.
-          Jarak tanam karet sistem larikan 7 X 3 meter atu 6 X 4 meter.
-          Tanaman sela harus di pupuk.
-          Setelah tanaman sela dipanen segera diusahakan tanaman penutup tanah.












BAB III KESIMPULAN
Dalam mempersiapkan lahan pertanaman karet diperlukan pelaksanaan kegiatan sistemmatis yang mampu menjamik kualitas lahan penanaman karet yang sesuai dengan persyaratan, beberapa kegiatan tersebut antaralain:
-          Pembabatan semak belukar
-          Penebangan dan penumbangan hutan
-          Merencek dan pemangkasan
-          Pendongkelan akar kayu
-          Penumpukkan dan pembakaran serta pembersihan
-          Membajak tanah
Seiring dengan pembukaan lahan ini dilakukan penataan lahan dalam blok-blok, penataan jalan-jalan kebun, dan penataan saluran drainase dalam perkebunan. Penataan blok-blok. Lahan kebun dipetak-petak menurut satuan terkecil dan ditata ke dalam blok-blok berukuran 10 -20 ha, setiap beberapa blok disatukan menjadi satu hamparan yang mempunyai waktu tanam yang relatif sama. Untuk mencegah terjadinya erosi dapat dilakukan dengan penanaman tanaman penutup tanah, tanaman penutup tanah dapat dipilih dari 3 ( tiga ) jenis tanaman, yaitu tanaman merayap, tanaman semak dan tanaman pohon. Selain itu, tanaman penutup tanah berperan dalam: (1) menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, (2) menambah bahan organik tanah melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan (3) melakukan transpirasi, yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi.
Pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musim penghujan yakni antara bulan September sampai Desember dimana curah hujan sudah cukup banyak, dan hari hujan telah lebih dari 100 hari. Pada saat penanaman, tanah penutup lubang dipergunakan top soil yang telah dicampur dengan pupuk RP 100 gram per lubang, disamping pemupukan dengan urea 50 gram dan SP - 36 sebesar 100 gram sebagai pupuk dasar. Penanam ini dilakukan dengan tujuan agar  bibit yang ditanam di lapang akan memperoleh air yang cukup untuk pertumbuhannya. Lubang yang telah dibuat diisi kembali dengan tanah sedalam setengah dalam lubang tanam kemudian bibit diletakan ditengah lubang tanam dan setangah bagian lagi tanah dimasukan dan dipadatkan. Bibit tertanam baik jika bibit tidak mudah bergoyang.
Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman.
1.      Pengendalian gulma
Areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alang-alang, Mekania, Eupatorium, dll sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
2.      Program pemupukan
Selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat penanaman, program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun.
3.      Pemberantasan Penyakit Tanaman
Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan karet. Penyakit yang sering menyerang tanaman karet diantaranya adalah:
-          Penyakit Embun Tepung
-          Penyakit Daun Colletotrichum
-          Penyakit Kanker garis
-          Penyakit Jamur Upas
-          Penyakit Bidang Sadapan
-          Penyakit Cendawan Akar putih
Pada lahan penanaman karet, petani biasanya melakukan tumpang sari/membuat (member) tanaman sela pada daerah penanaman karet tersebut. Syarat-syarat pelaksanaan tumpangsari :
-          Topografi tanah maksimum 11 (8%)
-          Pengusahaan tanaman sela diantara umur tanaman karet 0 – 2 tahun.
-          Jarak tanam karet sistem larikan 7 X 3 meter atu 6 X 4 meter.
-          Tanaman sela harus di pupuk.
-          Setelah tanaman sela dipanen segera diusahakan tanaman penutup tanah.















DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2012. Sejarah karet alam indonesia. http://sejarah.info/2012/01/sejarah-karet-alam-indonesia.html. Diakses pada tanggal 29 april 2012 pukul 20.21 WIB
Dj32. 2011.  Penyadapan Karet. http://www.perkebunanku.com/2011/10/perkebunan-karet-indonesia-riwayatmu.html. Diakses pada tanggal 29 april 2012 pukul 20.34 WIB
Setiawan, H. D dan Andoko, A. 2005. Petunjuk Lengkap Budi Daya Karet. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Tim Penebar Swadaya. 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mangoensoekarjo S, Balai Penelitian Perkebunan, Medan. 1983. Gulma dan Cara Pengendalian Pada Budidaya Perkebunan. Jakarta. Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian.
Purwito. 1977. Pedoman Bercocok Tanam Karet. Fakultas Pertanian UNSOED. Purwokerto.
Setyamidjaja Djoehana. 1983. Karet: Budidaya dan Pengolahan. Cv. Yasaguna. Jakarta.

Share this article :
Comments
1 Comments
 
Support : Creating Website | Forum Sumberajaran | Buku Tamu
Copyright © 2013. SUMBER [PEL]AJARAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Raymon Damson
Proudly powered by Sumber Ajaran