ISI PKM-P (PERALIHAN SISTEM PERTANIAN ORANG RIMBA)


A.     PERALIHAN SISTEM PERTANIAN ORANG RIMBA (Studi Kasus di Taman Nasional Bukit Dua Belas Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi)
B.                 LATAR BELAKANG
Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam setiap sisi kehidupan manusia. Dengan pertanian manusia dapat memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Pertanian juga merupakan sektor yang sangat penting dalam sektor industri, yang mana bahan baku industri di peroleh dari hasil pertanian. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa peran pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia sangat dominan dan manusia tidak dapat melangsungkan kehidupannya tanpa pertanian. Dinamisasi perkembangan pertanian sangatlah bergantung dengan
alam. Kondisi alam dan ketersediaan sumber daya alam yang ada sangat mempengaruhi hasil produksi pertanian. Hal ini terbukti dengan adanya jenis komoditi yang hanya bisa ditanam di daerah tertentu, ada pula komoditi yang bisa di tanam di beberapa daerah dengan kondisi alam yang berbeda tetapi hasilnya tetap akan berbeda. Ketersediaan sumber daya alam merupakan faktor penting yang menentukan adanya perubahan pada sistem pertanian, baik itu dari segi pemanfaatan hasil alam sampai pada bagaimana manusia menggunakan berbagai sarana untuk mendapatkan hasil dari alam tersebut. Semakin banyak ketersediaan sumber daya alam di suatu daerah, maka semakin mudah masyarakatnya mengakses sumber daya alam tersebut sehingga dengan cara yang sederhanapun masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. Lain halnya jika di daerah yang miskin akan sumber daya alam, maka akan terjadi upaya dengan berbagai cara untuk mengeksplorasi sumber daya alam secara besar-besaran,  bahkan cenderung melakukan ekploitasi sumber daya alam.
Kondisi sumber daya alam di Indonesia sangatlah memprihatinkan. Hutan tropis  yang menempati urutan ketiga terluas di dunia dan merupakan paru-paru dunia menjadi ancaman. Hal ini dikarenakan terjadinya pembalakan liar, ilegal logging, dan kerusakan lain yang terjadi hampir di seluruh hutan di Indonesia. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan semakin berkurangnya luas hutan di Indonesia. Kerusakan hutan tersebut dapat mengakibatkan hilangnya sumber daya alam yang ada di hutan salah satunya adalah punahnya makhluk hidup yang hidup di hutan tersebut. Jika kondisi ini terus menerus terjadi maka bisa jadi Indonesia tidak memiliki hutan di kemudian hari. Kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia tidak saja berdampak secara nasional dan regional, tetapi kelestarian bumi ini juga bergantung pada kelestarian hutan di Indonesia.
Hutan yang ada di provinsi Jambi tidak jauh berbeda kondisinya dengan hutan nasional. Banyaknya perusahaan perkebunan yang menggunakan hutan primer sebagai lahan perkebunan dapat menyebabkan berkurangnya sumber daya alam yang heterogen. Ketika kita mengamati keadaan hutan dan keadaan lahan perkebunan, kita dapat melihat banyak sekali perbedaan. Jika di dalam hutan masih sangat terjaga keseimbangan ekosistem, maka di lahan perkebunan makhluk hidup yang biasa tinggal di hutan maka tidak akan dapat tinggal di lahan perkebunan. Dari fenomena tersebut dapat dilihat bahwa kondisi hutan yang rusak dapat menyebabkan musnahnya komunitas yang tidak dapat hidup di area selain hutan. Selain itu, kebutuhan yang tidak terpenuhi menyebankan fauna yang tinggal di hutan akan merambah ke perkampungan penduduk untuk mencari makan dan sebagai bentuk protes karena kerusakan hutan sebagai tempat hidup mereka yang ditimbulkan oleh ulah manusia.
Tidak berbeda dengan manusia yang sangat menggantungkan hidupnya dengan sumber daya alam. Bentuk sistem pertanian yang dilakukan akan menyesuaikan dengan kondisi sumber daya alam di lingkungannya. Lingkungan yang sumber daya alamnya mudah diakses maka manusia tidak perlu bersusah payah mendapatkan makanan untuk memenuhi kebutuhannya. Sifat manusia yang mempunyai kebutuhan tidak terbatas menyebabkan manusia harus senantiasa berusaha agar tetap dapat memenuhi kebutuhannya. Kondisi sumber daya alam yang semakin berkurang akibat rusaknya hutan memaksa manusia untuk melakukan cara-cara baru yang relevan dengan kondisi dimana ia hidup. Ketika sumber daya alam melimpah maka manusia bisa mengabilnmya langsung dari alam tanpa proses yang sulit, tetapi ketika sumber daya alam yang tersedia ternyata tidak mencukupi kebutuhan manusia, maka mau tidak mau manusia harus melakukan bentuk sistem pertanian yang berbeda. Sehingga menjadi fenomena yang cukup jelas bahwa kondisi sumber daya alam yang ada disuatu daerah mempengaruhi bentuk sistem pertanian masyarakatnya.
Orang rimba merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai ketergantungan cukup tinggi terhadap ketersediaan sumber daya alam. Pola pertanian orang rimba yang masih bergantung dengan alam ini dapat dilihat dari cara mereka mendapatkan makanan. Adapun cara-cara tersebut berupa meramu, berburu, dan memetik buah-buahan dari hutan. Berdasarkan hal tersebut jelaslah bahwa keberadaan hutan dengan segala kekayaannya sangat dibutuhkan oleh orang rimba dalam mempertahankan kehidupannya.
Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) merupakan pusat kehidupan orang rimba. TNBD yang dengan adanya perubahan kebijakan pemerintah  sangat mempengaruhi kedudukan orang rimba di daerah ini. Orang rimba yang pada awalnya sangat menggantungkan kehidupan mereka dengan sumber daya alam di TNBD sekarang tidak dapat lagi mengakses sumber daya tersebut. Untuk mempertahankan kehidupannya, maka orang rimba dituntut untuk melakukan perubahan sistem pertanian. Ketika sumber daya alam bisa mereka dapatkan dengan mudah mereka cukup menggantungkan kehidupannya dengan hutan. Tetapi, ketika kondisi hutan yang  tidak dapat menjadi tempat oarang rimba bergantung maka orang rimba harus melakukan peralihan sistem pertanian dengan bercocok tanam.
Peralihan sistem pertanian yang dilakukan oleh orang rimba di kawasan TNBD tentu dipengaruhi oleh banyak faktor. Degradasi sumber daya alam yang terjadi menyebabkan orang rimba tidak dapat menggakses bahan makanan untuk mempertahankan kehidupannya. Faktor lain yang dianggap mempengaruhi peralihan sistem pertanian tersebut adalah adanya interaksi orang rimba  dengan orang luar yang memungkinkan terjadinya transfer informasi dan teknologi. Sehingga melalui interaksi tersebut orang rimba mengetahui banyak hal baru terkait pertanian. Orang rimba merupakan kelompok masyarakat yang hidup di daerah hukum, sehingga kebijakan pemerintah sangat mempengaruhi terjadinya peralihan bentuk pertanian orang rimba. Salah satu contoh kebijakan pemerintah tersebut adalah adanya perubahan sruktur agraria pemerintah dengan ditetapkannya UU No/5 Tahun 1967 tantang pokok-pokok kehutanan dan PP Nomor 21 Tahun 1970 telah merubah sistem pengelolaan hutan termasuk di Jambi. Dengan adanya Hak Pengusahaan Hutan (HPH) menyebabkan kondisi hutan di TNBD banyak yang digunakan sebagi lahan perkebunan. Situasi ini mempersempit ruang gerak orang rimba dalam berburu dan meramu.
Peralihan sistem pertanian orang rimba terdiri dari beberapa fase, yaitu dimulai dengan fase meramu dan berburu, fase berladang berpindah, kemudian menjadi fase bercocok tanam menetap yaitu ditandai dengan adanya penanaman tanaman perkebunan. Adanya pergantian fase ini belum diketahui kapan waktu yang menunjukkan terjadinya pergantian tersebut. Selain itu, faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya peralihan sistem pertanian orang rimba belum diketahui secara pasti apakah dari setiap fase peralihan mempuyai latar belakang yang sama atau berbeda. Maka dari itu, perlu dilakukan penelitian yang mengkaji tentang “Peralihan Sistem Pertanian Orang Rimba Di Taman Nasional Bukit Dua Belas Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi”.

C.                RUMUSAN MASALAH
Orang rimba merupakan kelompok masyarakat yang ada di provinsi jambi yang mempuyai sistem pertanian yang mengalami banyak fase peralihan di saat kelompok masyarakat lain sudah mempunyai sistem pertanian yang patent. Pada fase awal orang rimba memenuhi kebutuhan hidup dengan menggantungkannya pada alam yaitu dengan cara berburu, meramu, menombak ikan, dan memetik buah-buahan yang ada di hutan. Kemudian berganti fase menjadi berladang berpindah. Pada fase ini menunjukkan adanya peralihan sistem pertanian orang rimba, yang mana pada fase berburu dan meramu orang rimba tanpa melakukan usaha menanam dan menunggu hasil untuk mendapatkan makanan. Kemudian di fase ladang berpindah orang rimba sudah mulai melakukan usaha menanam dan menunggu hasil untuk mendapatkan makanan.
Fenomena diatas menunjukkan bahwa sistem pertanian orang rimba mengalami peralihan yang terdiri dari beberapa fase dengan waktu dan latar belakang yang belum diketahui. Sehingga perlu dirumuskan apa yang melatarbelakangi peralihan sistem pertanian orang  rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi?

D.                TUJUAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah antara lain:
1)                  Untuk mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya peralihan sistem pertanian orang rimba di TNBD Kabupaten Sarolangun Provinsi jambi
2)                  Untuk mengetahui waktu berlangsungnya peralihan sistem pertanian orang rimba di TNBD Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi

E.                 LUARAN YANG DIHARAPKAN
Adapun luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah diperolehnya suatu hasil penelitian berupa artikel ilmiah yang memuat tentang proses terjadinya peralihan sistem pertanian orang rimba dan menguraikan hal-hal yang mendorong terjadinya peralihan tersebut. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah, LSM terkait, atau bahkan masyarakat umum dalam upaya pemberdayaan orang rimba. 

F.                 KEGUNAAN
            Adapun kegunaan penelitian ini adalah:
1)                  Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah dan LSM terkait untuk mengembangkan sistem pertanian orang rimba di daerah lain.

G.                TINJAUAN PUSTAKA
1. Sejarah dan Kebudayaan Orang Rimba
Orang rimba atau suku kubu atau dikenal dengan suku anak dalam adalah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Orang rimba mayoritas hidup di Provinsi Jambi dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. Secara garis besar orag rimba di Jambi hidup di tiga wilayah ekologis yang berbeda, yaitu orang rimba yang tinggal di sekitar Taman nasional Bukit 12, wilayah utara Provinsi Jambi (Taman Nasional Bukit 30), dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatera).
Departemen Sosial dalam data dan informasi Depsos RI 1998 (Sasmita, 2009) menyebutkan asal usul orang rimba dimulai sejak tahun 1624 M ketika kesultanan Palembang dan kerajaan Jambi yang sebenarnya masih satu rumpun tetapi terus menerus bersitegang sampai pecahnya pertempuran di Air Hitam pada tahun 1929 M. Hal ini menunjukkan mengapa saat ini ada dua kelompok orang rimba dengan bahasa, bentuk fisik, tempat tinggal, dan adat istiadat yang berbeda.
Menurut berbagai hikayat dari penuturan lisan yang dapat ditelusuri seperti Cerita Buah Gelumpang, Tambo Anak dalam (Minangkabau), Cerita Orang Kayo Hitam, Cerita Sri Sumatera Tengah, Cerita Perang Bagindo Ali, Cerita Perang Jambi dengan Belanda, Cerita Tambo Sriwijaya, Cerita Turunan Ulu besar dan Bayat, Cerita tentang Orang Kubu, yang mana dari hikayat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa orang rimba berasal dari tiga turunan, yaitu:
1)                  Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari,
2)                  Keturunan dari Minagkabau, umunya di Kabupaten Bungo dan Tebo sebagian Mersam (Batanghari),
3)                  Keturunan dari Jambi asli, yaitu orang rimba Air Hitam Kabupaten sarolangun (Muchlas, 1975).
Menurut Van Dogen (Tempo dalam Sasmita, 2009) menyebutkan bahwa orang rimba sebagai orang primitif yang taraf kemampuannya masih sangat rendah dan tak beragama. Dalam hubungannya dengan dunia luar orang rimba mempraktekkan silent trade, yaitu melakukan transaksi dengan bersembunyi di dalam hutan dan melakukan barter, mereka meletakkan barangnya di pinggir hutan kemudian orang melayu akan mengambilnya dan menukarnya, gonggongan anjing merupakan tanda bahwa barang telah ditukar.
Menurut Koentjaraningrat (1993) asal mula adanya masyarakat terasing dapat dibagi dua. Pertama, menganggap bahwa masyarakat terasing merupakan sisa-sisa dari suatu produk lama yanng tertinggal di daerah-daerah yangg tidak dilewati penduduk sekarang. Kedua, masyarakat terasing merupakan bagian dari penduduk sekarang yang karena peristiwa peristiwa tertentu diusir atau melarikan diri ke daerah-daerah terpencil sehingga mereka tidak mengikuti perkembangan dan kemajuan penduduk sekarang.

             Orang rimba mempunyai budaya melangun, yaitu meninggalkan anggota keluarga yang meninggal atau sakit yanng tidak bisa sembuh di suatu tempat. Mereka mengangap tempat tersebut sial dan untuk dapat lebih cepat menghilangkan kesedihan. Sistem kepercayaan tradisional orang rimba di Provinsi Jambi adalah sejalan dengan faham pollytheisme yang bersifat animisme dan dinamisme. Mereka mempercayai roh-roh halus dan juga percaya kepada tempat-tempat tertentu yang dikeramatkan.
            Bagi orang rimba hutan merupakan harta yang tiada ternilai harganya, yaitu sebagai tempat mereka hidup, beranak pinak, sumber pangan, sampai pada tempat dilakukannya adat istiadat yang berlaku bagi mereka. Begitu pula sungai sebagai sumber air mnum dan berbagai fungsi lainnya.
             
2. Karakteristik Masyarakat Berburu dan Meramu
            Nomaden didefinisikan sebagai orang/kelompok yang memiliki harta benda minimal, termasuk barang seni dan alat teknologi.  Untuk memburu, membuka ladang, menebang pohon, dan lain-lain mereka memakai peralatan yang terbuat dari kayu dan besi. Mereka tidak terdorong atau tergoda mempunyai harta benda yang tidak termasuk kebutuhan primer karena akan menyulitkan mereka berpindah-pindah.
            Sebelum memiliki kain unuk cawat (kancut) orang rimba membuat cawat dari kulit kayu yang dipukul-pukul hingga lembut. Dimana laki-laki memakai cawat dari kain dan perempuan memakai kain panjang yang dikenakan dari  sampai bawah lutut atau kadang-kadang betis. Pakaian seperti itu merupakan pakaian tradisional orang rimba yang memudahkan mereka bergerak cepat di dalam hutan karena mereka butuhkan untuk mengejar binatang buruan atau untuk menghindari dari hal-hal yang berbahaya (Muntholib, 1995).

3. Sebab-sebab Munculnya Perladangan
            Sistem perladangan berpindah merupakan titik awal kearifan tradisional masyarakat di dalam memanfaatkan lahan. Perkembanggan sistem in tereskalasi sedemikian rupa dari waktu ke waktu yang akhirnya berubah menjadi suatu tradisi. Tradisi ini tidak hanya terfokus pada kegiatan berladang, namun juga pada kegiatan pemanfaatan lahan yang lain seperti kebun rakya (Havizianor dalam Sasmita, 2009).

H.                METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) Provinsi Jambi. Kawasan TNBD secara administratif meliputi tiga wilayah Kabupaten dalam Provinsi Jambi, yaitu Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sarolangun, dan Kabupaten Tebo serta terdapat beberapa desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNBD. Mengingat kelompok orang rimba yang berada di Kabupaten Sarolangun merupakan kelompok orang rimba yang sudah tinggal menetap dan melakukan perladangan maka dianggap tepat dijadikan sebagai lokasi penelitian.
            Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dalam pandangan orang rimba sendiri yaitu memberikan definisi tentang sesuatu menurut si pelaku yang mengalami peristiwa tersebut (Pelto dalam Muntholib, 1995). Data/informasi yang dijadikan bahan analisis merupakan data/informasi kualitatif yang diperoleh dari responden atau informan. Sumber data/informasi utama dalam pernelitian ini adalah informan, sedangkan responden hanya merupakan sumber data/informasi pelengkap. Responden dipilih secara sengaja (purposive) atas pertimbangan keterwakilan aspek permasalahan yang diteliti (Sitorus dalam Sardi, 2010).
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan historis untuk membuat rekontruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, menevaluasi, memverifikasikan, serta mensitesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat (Sumadi, 1989).
            Metode pengumpulan data penelitian menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam (in-depth interview). Analisis data dilakukan dengan bertumpu pada empat “sumbu” yang terintregasi, yaitu pengumpulan data, penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan.

I.                   JADWAL KEGIATAN
Adapun jadwal kegiatan dalam penelitian ini dilaksanakan selama 6 (enam) bulan dengan uraian sebagai berikut:
Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian
No
Uraian kegiatan
Bulan Ke-
1
2
3
4
5
6
1
Survei Lokasi dan Pembuatan proposal
X
X




2
Mensurvei pihak-pihak yang berhubungan dengan penelitian


X



3
Penelitian di lapangan dan pengolahan data



X
X

4
Pembuatan laporan dan evaluasi





X


J.                  RANCANGAN BIAYA
Adapun rincian biaya yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
 A. Bahan Habis Pakai
Pembuatan proposal 4 rangkap                                   Rp.     100.000,00
Pembuatan laporan kemajuan                                     Rp.     100.000,00
Pembuatan laporan akhir                                             Rp.     100.000,00
Pembuatan angket/kuisioner                                       Rp.     100.000,00

B. Peralatan Penunjang PKM
Alat perekam (walkman)                                             Rp.    100.000,00
Buku agenda penelitian                                              Rp.      50.000,00
Buku-buku literatur penunjang                                   Rp.    500.000,00

C. Perjalanan
Survei lokasi 5 orang X Rp. 100.000,00                     Rp.    500.000,00
Penelitian 5 orang X Rp. 100.000,00                          Rp.    500.000,00
Akomodasi 5 orang selama penelitian                        Rp. 5.000.000,00

TOTAL                                                                      Rp7.050.000,00



DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat, 1992. Masyarakat terasing di Indonesia. PT. Gramedia Pustaka
            Utama, Jakarta.
Muchlas, Munawir. 1975. Sedikit tentang Kehidupan Suku Anak Dalam (Orang      Kubu) di Provinsi Jambi. Kanwil Depsos Provinsi Jambi, Jambi.
  Muntholib, Soetomo. 1995. Orang Rimbo: Kajian Struktural – Fungsional
            Masyarakat Terasinng di Makekal, Provinsi  Jambi. Universitas
            Padjadjaran. Bandung.
 Sardi, Idris. 2010. Konflik Sosial dalam Pemanfaatan Sumber daya Hutan (Studi
            Kasus di Taman Nasional Bukit Dua Belas Provinsi Jambi). Institut
            Pertanian Bogor. Bogor
Sasmita, Karno. 2009. Etnoekologi Perladangan Orang Rimba (Studi Kasus di
            Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi). Universitas Gajah Mada.
            Yogyakarta.
Suryabrata, Sumadi. 1989. Metodologi Penelitian. CV. Rajawali. Jakarta



Lampiran 1
BIODATA KETUA

1
NAMA
NINGSIH SUSANTI
2
TEMPAT TANGGAL LAHIR
M. BARU, 26 JUNI 1989
3
JENIS KELAMIN
PEREMPUAN
4
NOMOR INDUK MAHASISWA (NIM)
DIB207038
5
FAKULTAS / JURUSAN
PERTANIAN / AGROBISNIS
6
ALAMAT FAKULTAS / UNIVERSITAS
JL. JAMBI MUARA BULIAN KM 15
7
NO. TELP. FAKULTAS / UNIVERSITAS
0741 583051
8
ALAMAT RUMAH / TEMPAT TINGGAL
PURI MASURAI 1 BLOK J.17
9
NO. TELP. RUMAH / HP
085268980190
10
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN :


1.SD / TAHUN TAMAT
SD N 155/VI M. BARU/ 2001

2.SMP / TAHUN TAMAT
SMP M. BARU/2004

3.SMA / TAHUN TAMAT
MA NURUL HUDA/2007
11
ORGANISASI YANG DIIKUTI
BEM UNJA, UKM ROHIS AR-RAHMAN UNJA, TYMAC, KAMMI, MISETA
12
NAMA AYAH
SUYANI
13
NAMA IBU
SUPARTINI
14
PEKERJAAN ORANG TUA (AYAH)
TANI
15
PENGHASILAN ORANG TUA
RP. 2.000.000,-
16
ALAMAT ORANG TUA
DS. M. BARU RT 16 KEC. AIR HITAM KAB. SAROLANGUN PROV. JAMBI

Jambi, 20 Oktober 2010

Mengetahui :                                                                          
Ketua Jurusan Agrobisnis                                                       Yang membuat,





Ir. A. WAHAB THALIB                                                     NINGSIH SUSANTI
NIP. 194711141975031001                                                   NIM. D1B207038



Lampiran 2

BIODATA ANGGOTA


1
NAMA
AMI
2
TEMPAT TANGGAL LAHIR
S. KARMEO, 29 OKTOBER 1989
3
JENIS KELAMIN
PEREMPUAN
4
NOMOR INDUK MAHASISWA (NIM)
D1B009005
5
FAKULTAS / JURUSAN
PERTANIAN / AGROBISNIS
6
ALAMAT FAKULTAS / UNIVERSITAS
JL. JAMBI MUARA BULIAN KM 15
7
NO. TELP. FAKULTAS / UNIVERSITAS
0741 583051
8
ALAMAT RUMAH / TEMPAT TINGGAL
PURI MASURAI 1 BLOK J.17
9
NO. TELP. RUMAH / HP
 085266141186
10
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN :


1.SD / TAHUN TAMAT
 SDN 235GENTAR ALAM/2001

2.SMP / TAHUN TAMAT
 SMPN 10 BATANGHARI/2004

3.SMA / TAHUN TAMAT
 SMAN 3 BATANGHARI/2007
11
ORGANISASI YANG DIIKUTI
UKM ROHIS AR-RAHMAN UNJA, TYMAC, KAMMI, MISETA
12
NAMA AYAH
 TRIMO (ALM)
13
NAMA IBU
 JUMIAH
14
PEKERJAAN ORANG TUA (AYAH)
TANI
15
PENGHASILAN ORANG TUA
RP. 2.200.000,00
16
ALAMAT ORANG TUA
JL. MA. TEMBESI-SAROLANGUN DESA SIMPANG KARMEO RT 04 KEC. BATIN XXIV KAB. BATANGHARI PROV. JAMBI

Jambi, 20 Oktober 2010

Mengetahui :                                                                          
Ketua Jurusan Agrobisnis                                                       Yang membuat,





Ir. A. WAHAB THALIB                                                     AMI   
NIP. 194711141975031001                                                   NIM. D1B009005



Lampiran 3


BIODATA ANGGOTA


1
NAMA

2
TEMPAT TANGGAL LAHIR
 
3
JENIS KELAMIN

4
NOMOR INDUK MAHASISWA (NIM)

5
FAKULTAS / JURUSAN
PERTANIAN /
6
ALAMAT FAKULTAS / UNIVERSITAS

7
NO. TELP. FAKULTAS / UNIVERSITAS

8
ALAMAT RUMAH / TEMPAT TINGGAL

9
NO. TELP. RUMAH / HP

10
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN :


1.SD / TAHUN TAMAT


2.SMP / TAHUN TAMAT


3.SMA / TAHUN TAMAT

11
ORGANISASI YANG DIIKUTI

12
NAMA AYAH

13
NAMA IBU

14
PEKERJAAN ORANG TUA (AYAH)

15
PENGHASILAN ORANG TUA
 
16
ALAMAT ORANG TUA


Jambi, 20 Oktober 2010

Mengetahui :                                                                          
Ketua Jurusan Agrobisnis                                                       Yang membuat,





Ir. A. WAHAB THALIB                                                     AMI   
NIP. 194711141975031001                                                   NIM. D1B009005






Lampiran 4

BIODATA DOSEN PEMBIMBING

1.      Nama                                       : Idris sardi, S.P, M.Si
2.      NIP                                         :
3.      Tempat  dan Tanggal Lahir     :
4.      Pendidikan                              :
5.      Alamat                                                :
6.      dll











Komentar